Sing Me – Chapter 1

cover-2

Nothing is going to stop us, not even fate.

“Suster ini sangat cantik dan masih muda, tapi malah mau mengurusi saya yang sakit.” Wanita paruh baya itu berkata sambil terbatuk. Aku hanya bisa tertawa sambil terus mendorong kursi rodanya. “Apa suster sudah punya pacar? Anak bungsu laki-laki ku belum menikah dan usianya tidak jauh dari suster, ingin aku kenalkan?” Dan lagi-lagi aku hanya bisa tertawa sambil memintanya untuk tidak terus bercanda. Dan itu bukan pertama kalinya aku mendengar tawaran seperti itu dari pasien, tapi menolaknya dengan sopan.

Pekerjaanku sebagai perawat di rumah sakit Universitas Myung Hee mengharuskan aku untuk bekerja dua belas jam dari pukul delapan malam sampai pukul delapan pagi ketika shift malam. Dalam seminggu aku memiliki tiga kali jadwal shift malam, dan hari ini adalah salah satunya.

Setelah mengantar pasien kembali ke kamarnya, aku melirik jam di meja perawat. Pukul empat pagi lebih. Dua orang rekanku baru saja pergi ke ruang istirahat di lantai atas untuk merebahkan badan sebentar. Aku sendiri tidak terbiasa untuk meninggalkan meja selama jam kerja. Rasanya tidak tenang jika meninggalkan pasien begitu saja.

Sepuluh menit kemudian aku menutup berkas terakhir yang harus kukerjakan, kemudian meraih ponsel di atas meja. Lima pesan masuk dan tiga panggilan tidak terjawab dari Kang Yong Hyun tertera di layar. Aku tersenyum mengingat terakhir kali aku membalas pesannya sore hari kemarin. Isi pesannya menanyakan kenapa aku tidak membalas, bahwa dia akan marah karena teleponnya tidak diangkat, tetapi kemudian menyemangatiku untuk bekerja keras dan yang terakhir menyuruhku untuk menghubunginya ketika selesai bekerja. Disamping sisi karismatiknya, terkadang dia bisa bersikap kekanakan seperti ini. Belum sempat aku membalas pesannya, telepon di atas meja berdering, memintaku menyiapkan kamar untuk pasien yang akan dipindahkan dari ER.

Kang Yong Hyun, atau mungkin kalian lebih mengenal nama Young K, basis member Day6. Orang-orang juga sering memanggilnya Brian, nama yang sekarang berusaha ia hilangkan dari image nya karena dia sudah debut sebagai Young K. Tapi aku lebih suka memanggilnya Yong Hyun, nama yang kukenal bahkan sebelum orang-orang mulai memanggilnya Brian Kang.

Iya, benar apa yang kalian pikirkan. Aku dan Yong Hyun memang memiliki hubungan khusus. Kami baru resmi berpacaran dua tahun yang lalu, saat dia masih menjadi seorang trainee. Sebenarnya kisah kami dimulai sudah sangat lama, jauh sebelum itu, sebelum dia berangkat ke Kanada. Kami berada di sekolah yang sama. Awalnya kami berdua saling membenci dan saling mengejek satu sama lain. Sampai akhirnya dia pergi ke kanada dan aku merasa sedikit kesepian, mungkin. Lalu entah bagaimana bisa akhirnya kami bertemu kembali dan dengan cara yang aneh malah berakhir menjadi pasangan. Singkatnya seperti itulah.

Jam sudah menunjukkan angka sembilan ketika aku menyerahkan laporan hari itu ke perawat yang selanjutnya bertugas kemudian bergegas ke ruangan di atas. Setelah mandi, mengganti baju dan membenarkan rambut, aku pun membenarkan riasan wajahku di depan cermin.

“Wow Im Da Hee, dengan pakaian seperti ini yang bukan seragam kerja, badanmu terlihat sangat stunning.” Ha Rin seonbae yang baru keluar dari kamar mandi mengamatiku dari atas sampai bawah. Aku pun melontarkan kata terimakasih sambil berpose sedikit.

Ya, dengan wajah dan tubuh seperti itu aku akan lebih memilih jadi artis saja ketimbang menjadi perawat.” Na Ri seonbae yang sedang berbaring di tempat tidur menambahkan.

“Memang apa salahnya dengan menjadi perawat? Lagi pula kau memujiku cantik setelah aku memakai make-up seperti ini, dasar seonbae.” Ujarku sambil merapikan rambutku yang terurai di bahu.

“Maksudmu bedak tipis dan lip-balm? Kau harus lihat seperti apa yang kami maksud dengan make-up. Kau ini yang dasar!” Aku merasakan bantal melayang dan membentur kepalaku. Aku membalasnya dengan melemparkan boneka kecil yang ada di meja, dan sesaat kemudian ruangan yang sudah terlalu banyak barang itu menjadi semakin berantakan karena ulah kami. Setelah merasa kelelahan karena tertawa, aku pun berpamitan untuk pulang terlebih dahulu, dan keluar dari rumah sakit dengan rambut yang sedikit berantakan.

Di halte, aku tidak terlalu lama menunggu bus. Tetapi sayangnya tidak ada tempat duduk yang kosong sehingga aku harus berdiri. Empat halte kemudian, aku pun turun, kemudian berjalan ke gedung apartemen yang jaraknya hanya sekitar dua menit dari halte. Gedung apartemenku tidak besar, hanya terdapat tujuh lantai dengan masing-masing tiga unit di tiap lantainya. Apartemenku ada di lantai tiga, meskipun kecil, untungnya ada elevator yang bisa digunakan. Ketika sampai di depan pintu, aku pun memasukkan angka kombinasi yang merupakan tanggal lahir Yong Hyun.

Aku melepas sandal dan berbalik untuk menutup pintu. Ketika itu aku merasakan seseorang memelukku dari belakang, membenamkan wajahnya ke cekungan leherku. Sesaat aku terkesiap kaget, bersiap melontarkan sumpah serapah, tapi ketika melihat ke samping dan mendapati rambut merahnya, aku pun tersenyum, menyentuh tangannya yang terkunci di pinggangku.

“Yong Hyun ah.. been so long.” Aku mengusap kepalanya dengan tanganku yang lain. Dia hanya membalas dengan erangan dan mengeratkan pelukannya. Aku bisa merasakan tarikan napasnya di leherku.

Beberapa detik tetap berada di posisi yang sama, kemudian aku berbalik dan berjalan melewati lorong, masih dengan Yong Hyun yang memelukku dari belakang. Tubuhnya yang hanya memakai kaus hitam berlengan panjang terasa hangat di punggungku. Aku meletakkan tas di meja dapur dan berjalan menuju stool untuk mencuci tanganku. Piring kotor yang sebelumnya ada di sana sudah tertumpuk rapi di atas rak. Pasti Yong Hyun yang mencucinya.

“Kapan kau datang? Kenapa tidak memberitahuku?” Aku berjalan ke ruang tengah, mendekati sofa. Dia mengikuti tanpa mengubah posisinya.

“Semalam, saat aku menelponmu tapi tidak diangkat. Aku baru sadar kalau kau sedang bekerja dan tidak ada di rumah.”

“Jadi kau semalaman di sini? All alone?” Dia hanya menjawab dengan anggukan.

Aku berhenti di depan sofa dan berbalik menghadapnya, melepaskan pelukannya untuk sementara karena dia langsung memelukku kembali. Kepalaku bersandar di dadanya yang terasa sangat nyaman setiap kali aku beristirahat di sana. Menghirup aroma Yong Hyun sebanyak yang aku bisa, dan entah kenapa rasa lelahku menguap seketika.

“Kau lelah, babe?” Dia agak menjauh untuk menatap mataku.

Aku menggeleng. “Sekarang tidak lagi.” Aku memeluknya erat sambil menjatuhkan tubuh ke sofa di samping kiriku dengan posisinya berada di atasku. Kedua sikunya menahan di samping kanan dan kiriku.

Dia tertawa. “Sebesar itukah pengaruhku untuk Im Da Hee?”

“Iya, bahkan lebih.” Aku menatap wajahnya, menyingkirkan poni yang menghalangi matanya. “Aku suka rambutmu yang agak panjang seperti ini. Nomong-ngomong, warna merahnya mulai pudar. Kau akan ganti warna apa lagi nanti?” tanyaku sambil mengusap puncak kepalanya.

“Entahlah. Kau ingin aku mewarnainya dengan warna apa?” Dia memainkan ujung rambutku, salah satu kebiasaannya.

“Hitam? Agar sama warnanya dengan rambutku. Lagi pula aku rindu rambut hitam mu.”

“Baiklah, cukup bagus.” Dia mengusap dahiku dengan ibu jari, kemudian mengecupnya. Bibirnya bergantian mengecup kedua pipiku. Dia menarik wajahnya menjauh dan memperhatikanku dengan mata bercandanya yang selalu aku suka. Dia mengecup puncak hidungku dengan cepat. Sebelum wajahnya kembali turun lebih jauh, aku menungkup wajahnya dengan kedua tangan dan mengecup bibirnya singkat.

“Aku harus mandi lagi. Rasanya masih tidak nyaman meskipun sudah mandi di rumah sakit.” Aku menatap wajahnya yang sekarang terlihat lucu berada di antara kedua tanganku. Sebelum beranjak dari sofa, aku mengecup rahang kanannya yang sangat mengganggu fokus ku sedari tadi. Aku mendengar dia menggerutu saat aku masuk ke kamar mandi.

Beberapa saat kemudian, aku berjalan keluar kamar mandi dengan celana tenis ku dan kaus merah muda berlengan panjang yang agak kebesaran dan handuk yang tersampir di bahu. Aku mengambil satu botol air putih dari lemari pendingin, lalu meneguknya. Terlihat Yong Hyun berbaring menyamping di sofa sambil memindahkan saluran TV dengan bosan. Aku pun berjalan dengan membawa pengering rambut dan sisir di tanganku.

“Kau tidak ada jadwal hari ini?” Aku duduk di dekat kakinya, menaruh sisir di meja dan mengeringkan rambutku. Mataku tertuju padanya yang masih sibuk mencari saluran, entah apa yang ingin dilihatnya tapi wajahnya terlihat lucu.

“Tidak, sampai lusa jadwalku kosong.” Dia akhirnya berhenti di sebuah acara penghargaan aktor yang biasa digelar tiap tahun.

“Tumben. Tidak ada latihan juga?” Aku menatapnya curiga, mengingat seberapa padat jadwal latihan mereka, sedikit mustahil baginya untuk libur selama itu.

Dia melirik ke arahku. “Baiklah, aku mengaku. Sebenarnya aku yang meminta libur untuk beberapa hari dengan alasan aku merasa sedikit capek.”

“Biasanya tidak ada kata capek jika menyangkut aktivitas band mu.” Aku mematikan alat pengering rambut dan mulai menyisir rambut.

“Itu kan hanya alasan. Aku ingin melihatmu. Kita sudah tiga minggu lebih tidak bertemu, Da Hee ah, kau tau?” Dia melingkarkan kakinya ke pinggangku.

“Benarkah? Hanya tiga minggu? Aku kira lebih lama dari itu.” Aku meletakkan sisir dan bersandar ke sandaran sofa. Tanganku memainkan pinggiran celana jeans nya.

“Kau bercanda? Itu memang lama. Jae bahkan menyarankan beberapa hal gila agar aku bisa bertemu denganmu saat aku mengeluh tentang ini.”

“Benarkah? Seperti?”

“Seperti memakan masakannya agar aku ada alasan untuk ke rumah sakit dan bertemu denganmu. Atau mendorong Sungjin hyung dari kursinya agar aku bisa mengantarnya ke rumah sakit.”

“Dia selalu ingin mengorbankan Sungjin sepertinya. Lagipula kau sampai cerita seperti itu pada Jae, kita kan sering video call. Apa itu tidak cukup?”

Dia menatapku. “Seriously? Apa video call bisa seperti ini?” Dia menarik kakinya, membuatku kehilangan keseimbangan dan terjatuh di atasnya. Tanganku menggenggam bahunya sebagai tumpuan. “Tidak, kan? Makanya itu saja belum cukup.”

“Kau itu membuatku kaget saja ya!” Dia tertawa. Aku meninju bahunya pelan, bahkan mungkin dia tidak merasakan apapun.

“Aku merindukanmu, Da Hee ah..” Dia menatapku. Aku bisa merasakan denyut jantungnya di bawah dadaku. Menggila, sama halnya dengan milikku.

Aku membalas tatapannya sambil tersenyum dan mengulurkan tangan untuk menyentuh pipinya. “Aku juga merindukanmu, Yong Hyun ah. Sangat.” Ibu jariku mengusap ujung bibirnya.

Glad to know someone is still calling me by that name, and it is you.” Dia menggenggam tanganku yang ada di pipinya, kemudian mengecupnya tanpa melepaskan tatapannya padaku.

Perlahan jarak tipis antara kami mulai terkikis. Matanya menatap mataku dalam, kemudian tertutup ketika hidung kami bersentuhan. Aku berhenti sebentar, mengagumi setiap lekukan wajahnya yang sangat indah. Aku tersenyum saat merasakan wajahnya semakin mendekat dan hembusan nafasnya terasa hangat di wajahku. Aku pun menutup mata dan menyambut bibirnya yang sekarang sudah menyentuh bibirku dengan sangat lembut.

Tangannya bergerak turun seiring dengan ciumannya yang bertambah dalam. Aku meletakkan tanganku di kepalanya, bergerak naik turun menyebabkan rambutnya berantakan. Dia berhenti ketika tangannya berada di bawah kaus ku, menggelitik perutku yang sekarang terasa panas.

Sing me, babe..” Dia berbisik, seperti meminta izin untuk melanjutkan lebih jauh. Dua tahun bersama dengannya dan kami tidak pernah lebih jauh dari ini. Aku terdiam sesaat, kemudian menempatkan wajahku di telinganya.

“Tidak disini, sayang..”

Tanpa aba-aba, dia berdiri dan menggendongku secara tiba-tiba sehingga aku harus berpegangan ke lehernya.

“Yak! Bagaimana kalau tadi aku ja—“

Bibirnya menghentikan kalimatku. Saat itu juga aku membalas ciumannya tanpa rasa ragu sedikitpun. Aku bisa merasakan senyuman di bibirnya. Dia berjalan ke arah kamar tanpa melepaskan ciumannya di bibirku yang semakin dalam, dan aku pun sama. Tanganku meremas kaus hitamnya ketika dia menutup pintu kamar dengan kakinya.

To be continued

Iklan

Gimmie ur comment ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s