The Psycho You (Part 2)

ch 2

 

“Aku seperti bukan diriku lagi sekarang”

 

“Menikahlah denganku.”

 

Sekali lagi aku menatap riasanku di cermin. Pipi merah blash-on ku semakin merona setiap teringat kalimat yang dia ucapkan di kebun belakang rumahku tempo hari. Entah kenapa darahku berdesir setiap kalimatnya terulang kembali di dalam otak ku. Dan itu juga yang membuat senyumku mendesak keluar. Beberapa saat setelah dia mengucapkannya, aku pikir ini akan menjadi mudah. Pernikahan ini tidak serumit yang aku pikirkan ketika Kyuhyun secara ‘resmi’ benar-benar memintaku untuk menikah dengannya.

Setelah hari itu, setiap kali bertemu dengannya aku merasa aneh. Aku seperti bukan diriku lagi sekarang. Contohnya, aku tidak bisa bertatapan langsung dengannya tanpa membuat pipiku menghangat. Aku juga merasa ada magnet di mataku karena selalu melihat ke arahnya setiap kali.

Pintu ruang tunggu pengantin wanita terbuka sedikit, aku bisa melihat sebuah mata mengintip dari baliknya. Aku menoleh.

“Kyuhyun-ssi..?” Aku berjalan mendekati pintu.

“Oh, tidak, tidak. Tidak lebih dekat lagi Jin Ri-ssi, atau Donghae akan memukulku.” Dia tetap menahan pintu hanya terbuka sedikit. “Dengar, aku kesini hanya ingin memastikan kau tidak kabur kemanapun atau mengurung diri di sini dan tidak mau keluar atau..” Dia berhenti ketika menyedari nada bicaranya sudah tidak terkendali. “Yah, begitulah.” Suaranya kembali seperti semula.

“Tidak akan. Kau jangan khawatir, karena seseorang sudah memintaku untuk menikahinya agar mendapat bantuan di musim semi nanti.” Aku mengatakannya sambil tertawa.

“Benarkah? Tapi aku memintamu menikahiku agar aku bisa menjagamu selamanya. Bagaimana ini?” Dia tergelak dan memperlihatkan geliginya yang putih.

Aku baru mau membuka mulutku ketika dari jauh terdengar sebuah suara yang memanggil nama Kyuhyun dan sorot matanya menjadi panik. Dia membuka pintu sedikit lebih lebar.

“Kau cantik Jin Ri-ssi, sangat cantik. Kau pengantin paling cantik di dunia. Aku beruntung bisa menemukanmu.” Setelah mengatakannya dia langsung menutup pintu dan terdengar ocehan dari seseorang. Mungkin itu Donghae, sepupunya. Aku tertegun beberapa saat akibat kalimat yang dia ucapkan barusan. Dan saat itu ibu masuk lalu merapikan tatanan rambutku yang dinaikan keatas, menyisakan beberapa helai bergelombang disamping wajahku. Ibu mengatakan sesuatu tapi tak bisa kucerna. Aku masih terkena efek perkataan Kyuhyun tadi.

*~*~*

Ibu keluar-masuk ruangan dengan panik sementara Krystal mengipasiku dengan kipas bulu yang selalu dia bawa. Upacara pernikahan sudah terlambat 15 menit dari jadwal karena Kyuhyun yang tidak bisa ditemukan di mana pun.

“Kalian sudah menemukannya? Bagaimana? Dia ada di mana? Kau sudah cari di sana?” Ibu memberi arahan kepada beberapa penjaga keamanan. Semua saudara Kyuhyun pun ikut mencari tetapi masih tidak bisa ditemukan.

“Kau yakin dia sempat menemuimu tadi?” Krystal bertanya untuk kesekian belas kalinya. Aku mengangguk, masih bingung kemana Kyuhyun menghilang. Dan kenapa?

“Lalu apa yang dia katakan? Bukan salam perpisahan, kan? Dia tidak lari dengan gadis lain kan, Jin Ri-ah??”

“Aku sudah mengatakan semuanya tadi. Jangan membuatku mengulang untuk kesekian kali Krystal-ah. Aku juga panik, kau tahu?”

Krystal memutar bola matanya dan mengipasiku lebih keras.

Alih-alih merasa kesal, aku malah mengkhawatirkan keadaan Kyuhyun. Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi? Misalnya dia terpeleset dan hilang ingatan? Atau dia diculik mafia karena menyaksikan transaksi illegal mereka? Atau mungkin dia dipaksa minum obat oleh anggota Organisasi Hitam dan menjadi kecil seperti Sinichi Kudo? Oh tidak, tidak. Aku terlalu banyak membaca komik Aoyama Gosho itu. Tapi bagaimana jika salah satunya benar?

“Sudah datang, sudah datang. Kyuhyun sudah datang. Katanya dia terlalu lama diam di toilet karena merasa gugup. Dia sudah berada di altar sekarang.” Ibu berlari-lari kecil sambil tersenyum lebar. Krystal membantuku berdiri dan merapikan gaunku yang menjuntai. Aku merasa lega, tetapi sekaligus merasa ada sesuatu yang aneh. Entah tentang apa.

Aku berjalan menuju altar dan melihat mata Kyuhyun yang memandangi setiap langkah yang kubuat. Aku merasa ada yang berbeda dengan tatapan itu. Mungkin selama ini dia memang menatapku dengan tatapan datarnya sama seperti sekarang, tapi kali ini dia juga melihatku seperti orang asing. Berbeda dengan caranya menatapku ketika tadi dia mengatakan bahwa aku cantik. Gagasan itu sedikit menggangguku.

Ketika sampai dan dia menggenggam tanganku, aku bisa merasakan dingin dan lembab tangannya. Seingatku ketika berkenalan waktu itu, tangannya terasa lebih hangat. Ada perasaan lain saat menggenggam tangannya sekarang. Apa mungkin karena dia sedang gugup? Lucu sekali dia.

Ketika mengucapkan janji itu, aku menyadari satu hal lagi. Suara Kyuhyun terdengar lebih dingin dari biasanya. Tidak ada kehangatan yang terselip di dalamnya. Hanya terasa dingin dan gelap. Diam-diam aku menoleh dan memperhatikannya, takut-takut kalau dia berubah menjadi orang lain yang tidak kukenal. Tapi Kyuhyun menoleh dan tersenyum padaku. Tersenyum dengan wajah yang selama ini kulihat. Dia memang benar Cho Kyuhyun. Mungkin dia memang sedang gugup dan aku terlalu peka untuk mengiranya sebagai orang lain.

*~*~*

Upacara pernikahan dan sebuah garden party di sebuah taman sudah selesai. Badanku terasa sangat pegal dan lelah. Ketika pesta sudah selesai dan aku sudah berganti pakaian, ibu datang dengan wajah super berseri. Dia mengatakan sesuatu yang puitis sampai-sampai perutku terasa mual. Seolah-olah dia sangat berat untuk melepasku. Padahal bukannya dia yang memaksaku untuk melakukan pernikahan ini? Aku tahu ibu berkata seperti itu karena disini ada ibunya Kyuhyun, yang dari tadi memandangi kami dengan wajah terharu. Ibu memang pandai sekali akting. Begitu ibu Kyuhyun keluar dari ruangan untuk mengurus sesuatu, diri ibu yang biasanya kembali.

“Jin Ri-ah! Perlihatkan cincinmu pada ibu!” Dia menyerbu tangan kiriku. Ternyata dia mengincar ini. Seharusnya aku sudah tahu. “Wah, lihat ini! Berlian-berliannya sangat menyilaukan mata Jin Ri-ah!”

“Yah, memang selalu seperti itu di mata ibu, kan.”

“Jin Ri-ah, kau tidak terbiasa kan memakai perhiasan seperti ini? Tanganmu akan gatal jika kau tidak terbiasa. Kata teman ibu itu karena reak—“

“Ambilah.” Aku melepas cincin itu dan menyimpannya di tangan ibu. “Kembalikan kalau kau sudah puas memamerkannya. Ara?” Aku mengangkat telunjukku.

“Anakku memang yang terbaik.” Dia memakainya di jari manis sebelah kanan, karena sudah tidak ada tempat kosong di jemari tangan kirinya.

*~*~*

Aku duduk di kursi belakang, di kursi depan ada Kyuhyun yang sedang menyetir dan ibunya. Ibuku menolak tawaran mereka untuk mengantarku ke rumah ‘baru’ ku yang tidak lain adalah rumah keluarga Kyuhyun di daerah Gangnam. Alasannya dia tidak ingin membuatku menangis. Padahal aku tahu dia berencana pergi ke karaoke bersama teman-temannya. Sekarang hampir tengah malam dan aku sangat mengantuk, jadi aku lebih banyak diam ketika ada di mobil. Entah apa yang dibicarakan Kyuhyun dan ibunya. Aku sangat lelah.

 

Aku terbangun ketika merasakan sentuhan di punggungku, ketika aku membuka mata, kulihat Kyuhyun yang tengah berusaha mengangkatku dari jok mobil.

“Yak! Kau ini berat sekali!” Bentaknya di depan wajahku.

Aku meringis malu karena dibelakang Kyuhyun ada ibunya yang tertawa cekikikan. Aku mendorongnya keras. “Aku bisa sendiri. Terima kasih.” Aku pun turun dengan wajah memerah, kurasa.

“Langsung ke dalam saja. Biar Kyuhyun yang membawakan barang-barangmu.” Ibu Kyuhyun merangkulku masuk kedalam rumahnya yang besar. “Panggil aku omonim saja, ne?” aku pun mengangguk malu sambil menyelipkan rambutku ke belakang telinga.

“Tunggu, ke mana cincin mu Jin Ri-ah?” Dia memegang tangan kiriku.

“Itu.. aku.. aku menyimpannya di dalam tas. Aku.. aku takut menghilangkannya..” Bohongku diselipi tawa garing. Mana mungkin aku mengatakan yang sebenarnya. Sama saja dengan mempermalukan ibuku sendiri. Dia tersenyum lega dan berkata bahwa aku sangat pandai menjaga barang.

Di dalam, aku langsung bisa merasakan suasana megah ketika baru melangkah masuk. Lantai yang ku pijak terbuat dari marmer indah berkilau. Dinding dan barang-barang di sini didominasi warna cokelat tua dan warna krem. Ada beberapa lemari kaca yang memajang benda-benda antic dan beberapa figur mainan, sebuah sofa merah hangat di pojok ruangan dekat perapian dan satu set kursi dari kayu jati asli yang disekat oleh sebuah lemari buku dengan perapian tadi. Foto-foto yang dipajang di dinding menunjukan bahwa mereka adalah keluarga yang harmonis. Lampu gantung yang gemerlap menambah kesan indah di ruangan ini. Jauh berbeda jika dibandingkan dengan rumahku.

Ada beberapa saudara Kyuhyun yang berjalan kesana-kemari di dalam rumah. Yang bisa kukenali hanya Donghae saja. Sepertinya mereka akan menginap. Omonim membawaku ke lantai dua, masuk ke sebuah kamar yang berada di sebelah kanan tangga. Di lantai dua suasananya tidak jauh berbeda dengan lantai satu. Tetapi di sini tidak terdapat banyak barang. Hanya sebuah sofa cokelat dan satu set home theatre.

“Masuklah. Bersihkan dirimu sebelum tidur. Kau terlihat lelah Jin Ri-ah.” Dia mengusap kepalaku kemudian berbalik menuju tangga.

“Omonim..” Panggilku ketika dia akan menuruni tangga. “Annyeonghi jumuseyo.” Aku membungkukan badan dan dia membalasnya dengan tersenyum. Aku pun memasuki kamar dan seketika aroma musk milik Kyuhyun menyerbu indera penciumanku. Aku tersipu sendiri mengingat sekarang aku berada di daerah paling privat milik Kyuhyun dan akan berbagi itu dengannya mulai sekarang. Aku pun langsung memasuki kamar mandi yang ada di ujung ruangan dan membersihkan badanku yang sudah teramat lelah. Aku tahu, mandi tengah malam tidak bagus untuk kesehatan. Tapi aku sangat lelah dan siraman air hangat sangat membantu di saat seperti ini.

Cukup lama aku berada di kamar mandi, ketika aku keluar, barang-barangku sudah ada di sana di samping pintu. Itu artinya Kyuhyun masuk kesini tadi ketika aku sedang mandi. Untung saja dinding kamar mandinya tidak terbuat dari kaca buram. Kalau iya, aku akan sangat merasa malu. Sepertinya sekarang dia sedang bersama saudara-saudaranya di bawah. Baguslah, aku jadi bisa lebih leluasa.

Setelah memakai piyama favoritku dan membereskan pakaian kedalam lemari, aku pun berbaring di atas kasur berukuran king size dengan bed cover berwarna coklat susu ini. Hangat. Dan beberapa lama kemudian sepertinya aku mulai tertidur.

*~*~*

Aku terbangun ketika jam di nakas Kyuhyun menunjukkan pukul lima kurang sepuluh menit. Biasanya jam biologisku sudah terbiasa membangunkanku lebih pagi. Aku melihat ke samping dan menemukan Kyuhyun yang tengah tertidur pulas. Wajahnya lucu sekali. Beberapa detik kuhabiskan untuk memperhatikan wajah tertidur Kyuhyun sebelum akhirnya bergegas ke kamar mandi kemudian mengganti piyamaku dengan kaus bertuliskan nama band legendaris yang berwarna peach lengan panjang dan celana bahan berwarna biru. Berusaha tidak membuat keributan, aku pun keluar kamar dan turun ke lantai satu. Sepi, di sana tidak ada seorangpun. Aku cukup yakin bahwa rumah ini punya cukup kamar untuk menampung tamu yang banyak. Jadi tidak ada yang tertidur di ruang tengah.

Aku menyiapkan sarapan menggunakan bahan yang ada di lemari es. Sepertinya keluarga ini tidak memiliki kokinya sendiri karena jika ada, mungkin sekarang sedang ada yang memasak sarapan. Ketika piring terakhir tersaji di atas meja makan, aku mendengar suara Omonim.

“Jin Ri-ah, kau menyiapkan semua ini? Ya ampun, maafkan aku. Aku terlambat bangun karena kelelahan. Merepotkanmu saja. Padahal kau baru datang kesini.” Terdengar nada menyesal .

“Tidak apa omonim. Ini sudah menjadi rutinitasku setiap hari. Lagipula, tentu saja omonim kelelahan karena kemarin begitu sibuk.”

Dia tersenyum kemudian duduk. “Kami memang tidak menyuruh orang untuk memasak. Aku ini mantan koki handal, jadi kupikir aku masih sanggup membuatkan makanan untuk keluargaku.” Dia tertawa kemudian mencicipi masakanku. “Hmm, kau juga pandai memasak ternyata Jin Ri-ah. Kenapa tidak pergi ke sekolah memasak? Kau punya bakat.”

“Cita-cita ku menjadi guru, omonim.” Dia hanya mengangguk-angguk mendengar jawabanku.

“Wah.. wangi sekali. Siapa ini yang memasak?” Abonim datang dan duduk di tempatnya.

“Tentu saja menantumu yang cantik, aboji.” Omonim menjawab sambil meletakan nasi ke mangkuk abonim. Abonim tertawa dan menyuruhku duduk di samping kirinya, tepat di depan Omonim.

“Wangi ini membuat perutku semakin lapar..” Donghae datang dengan wajah bangun tidurnya kemudian disusul saudara-saudara yang lain. Dan Kyuhyun jadi orang terakhir yang datang. Itupun sepertinya dia belum mandi.

Ini pertama kalinya aku merasakan kehangatan ditengah keluarga besar seperti ini. Mereka memakan masakanku dan memujinya. Ada yang minta tambah, ada yang berebut, aku jadi mengerti seperti inilah rasanya memiliki keluarga.

Setelah selesai sarapan, saudara-saudara Kyuhyun berpamitan pulang. Kyuhyun pun pergi ke kantornya. Meskipun telah dilarang ibunya, dia bersikeras dengan alasan ada hal penting yang harus dia kerjakan. Dia meminta maaf padaku, kemudian pergi. Sebenarnya aku tidak masalah. Ya benar, aku tidak masalah dia mau pergi kemanapun. Apalagi untuk bekerja. Aku ini kan istri yang baik. Haha masih aneh rasanya mengakui bahwa sekarang aku sudah menjadi seorang istri. Jadi di rumah ini hanya ada aku, omonim, abonim, dan beberapa orang yang tengah membersihkan rumah.

*~*~*

Aku sedang berada di perpustakaan kecil milik keluarga ini. Mencari siapa tahu ada buku sastra yang belum pernah aku baca. Tapi di sini hanya ada buku tentang bisnis dan ekonomi. Aku mana bisa paham. Akhirnya aku membaca sebuah komik yang terselip diantara buku-buku besar.

“Jin Ri-ah..” Omonim duduk di sampingku. Aku pun menutup komik itu dan memperhatikannya. “Aku pikir ini memang mendadak, tapi aku dan ayah Kyuhyun harus segera terbang ke Paris hari ini. Kakak perempuan Kyuhyun akan menggelar fashion show pertamanya di sana dan dia ingin kami hadir. Kau, baik-baik saja jika kutinggal disini berdua dengan Kyuhyun?”

Aku menelan ludahku. Kemarin omonim memang menyinggung tentang kakak perempuan Kyuhyun yang sedang menyiapkan fashion show nya sehingga tidak bisa hadir di pernikahan. Tapi aku tidak berpikir kalau persiapannya akan selesai secepat ini dan mereka akan pergi ke sana.

“Aku tidak mengkhawatirkan Kyuhyun karena kau pandai memasak. Tapi aku sedikit mengkhawatirkanmu..” Dia menggantung kalimatnya. Aku hanya bisa menyimak dengan seksama karena tidak tahu kemana arah pembicaraan ini. “Aku tahu semalam dia.. tidak melakukan apa-apa padamu. Aku harap kau tidak tersinggung. Dia memang agak dingin dan tidak punya pengalaman dengan perempuan. Aku harap kau bisa memakluminya.”

“Omonim..” Aku sedikit kaget dengan perkataan omonim barusan. “Aku.. aku pikir..” Aku menarik napas dan berusaha menyembunyikan kekagetanku. “Aku pikir itu bukan hal yang serius, omonim. Karena aku sendiri masih belum siap dengan hal itu.” Itu jawaban terbaik yang bisa kukatakan.

“Aku mengerti kalian masih muda. Aku juga tidak akan memaksa kalian. Tapi aku harap kau mulai menganggapnya serius karena kami sudah menginginkan cucu. Mengingat kakaknya Kyuhyun itu lebih memilih karir daripada rumah tangga, kami berharap banyak pada kalian berdua.” Omonim tersenyum dan menggenggam tanganku. Aku hanya mengangguk kecil.

*~*~*

Tepat tengah hari mereka berangkat ke bandara. Dan sekarang aku sendirian di rumah yang super besar ini. Mungkin hanya ada satu dua orang penjaga di luar. Karena Kyuhyun belum pulang, aku memutuskan untuk melihat-lihat kamarnya. Tujuan pertamaku adalah lemari buku miliknya.

Dibandingkan dengan buku-buku di perpustakaan tadi, buku-buku di sini lebih beragam. Aku bisa menemukan beberapa novel dan banyak komik misteri. Sepertinya komik yang tadi kubaca juga milik Kyuhyun yang tertinggal di sana. Aku mengambil beberapa novel dan duduk bersila di atas karpet bulu tebal di samping kasur Kyuhyum. Aku memilih sebuah novel tebal dengan sampul paling kusam. Sepertinya ini novel yang paling tua diantara novel lain. Aku membaca halamannya satu per satu, tertarik masuk ke dalam cerita di dalamnya. Ketika aku sampai dibagian tengah, sebuah foto terjatuh. Aku mengambilnya dan terdapat empat orang pria di dalam foto itu. Kyuhyun, bersama tiga orang lagi yang tidak aku kenal. Aku membalik fotonya dan mendapati tulisan ‘Kyu Line – Villain Brotherhood’. Kyuhyun membentuk geng? Sepertinya itu geng SMU nya, melihat dari seragam yang mereka pakai. Pemilihan nama yang aneh. Aku tertawa dan meletakan kembali foto itu.

Terdengar suara klakson mobil dan suara gerbang yang dibuka. Aku melirik jam. Pukul lima. Sepertinya Kyuhyun sudah pulang. Apa yang harus kulakukan?? Panik, aku meletakan kembali novel-novel itu ke dalam rak buku, menyambar remote dan menyalakan TV di kamar Kyuhyun.

Beberapa saat kemudian, Kyuhyun masuk ke dalam kamar. Penampilannya berantakan. Jasnya tersampir di tangan. Sepertinya sangat berat mengurus pekerjaan kantor.

“Kau sudah pulang?” Pertanyaan bodoh. Kyuhyun duduk diam di sofa. “Mau aku siapkan air panas? Atau makanan? Kau terlihat lelah.” Aku berjalan mendekat.

Dia menatapku dengan mata lelahnya. “Tidak usah. Kau tidak perlu bersikap baik padaku.” Kata-katanya dingin. Aku tercengang dan menghentikan langkahku.

Dia beranjak dari duduknya. Berjalan melewatiku begitu saja menuju lemari pakaian. Aku berbalik. Tidak mengerti dengan sikapnya yang tiba-tiba menjadi tidak sopan.

Dia memilih-milih jas dan mengambil satu yang berwarna abu-abu. “Kau tidak menginginkan pernikahan ini bukan? Kau dipaksa oleh ibumu yang sialan itu untuk menikah. Kenapa memaksakan diri?” Dia menyeringai.

“Cho Kyuhyun..” Suaraku tercekat di kerongkongan.

“Yang dia inginkan hanya harta. Bukan kebahagiaan anaknya seperti yang dia bilang. Kau tidak tahu, kalau tubuhmu sudah dia jual pada keluarga ini? Dia itu sangat tergila-gila dengan uang. Kau tahu rencana ibumu kan? Menguras harta keluarga ini. Tapi kenapa masih berlagak baik? Bisa tinggal di rumah semewah ini saja sudah untung. Mana ada orang yang membiarkan perampok hidup bersama di rumah mereka.”

“Cho Kyuhyun hentikan!” Aku berteriak marah. Dia sudah keterlaluan.  “Maksudmu apa? Aku tidak mengerti. Bukannya kau yang memintaku untuk menikah denganmu? Sore itu, kau bilang—“

“Oh, itu..” Dia berdiri di depanku. “Lupakan saja. Aku hanya bercanda.” Dia menyeringai dengan wajah yang menyebalkan. Ini kali pertama aku melihatnya seperti ini. Dia seorang psikopat atau apa??! Air mataku meleleh begitu saja. Aku tahu dari awal seharusnya aku tidak usah percaya.

“Aku ada hadiah. Sesuatu yang memang milikmu. Tidak usah berterima kasih karena aku sudah melakukannya mewakilimu.” Dia menunjuk meja kecil di depan sofa kemudian pergi.

Aku memandangi kotak merah muda yang cukup besar itu. Ragu dengan apa yang ada di dalamnya setelah melihat sikap Kyuhyun yang berubah drastis itu. Aku membuka pita merah di atasnya dan perlahan membuka penutup kotak.

“AAH!” Aku memekik dan tanpa sadar mendorong kotak itu menjauh. Seketika perutku mual. Air mataku mendesak keluar lagi. Dengan mulut terbekap, aku menjulurkan leher mendekati kotak itu. Sepotong tangan. Ya, kotak itu berisi sepotong tangan kanan yang mulai membusuk. Aku tahu itu asli dari bau tidak enak yang dikeluarkannya. Mataku terbelalak ketika melihat sesuatu di jari manis tangan itu. Benda kecil.. Berlian-berlian yang berkilauan.. Itu cincin pernikahanku. Itu cincin yang diminta oleh ibu semalam. Apa mungkin ini, tangan milik ibu??? Mataku terbelalak. Isak tangis mulai keluar dari bibirku. Jelas tangan ini terpotong ketika pemiliknya telah meninggal. Karena tidak ada darah yang mengalir. Apa itu artinya Kyuhyun membunuh ibu? Kyuhyun membunuh ibuku?? Kenapa??

Dengan satu gerakan, aku menutup kotak sialan itu. Sebelum keluar, aku mengganti celanaku dengan celana jins dan menyambar kardigan abu-abu di balik pintu.

“Mana Cho Kyuhyun?”

“Dia bilang dia akan ke kantor, nona.” Jawab kepala keamanan. “Apa ada sesuatu yang salah?” Dia menatap mataku yang masih basah.

“Kau bisa mengemudi?” Tanyaku. Melihat ada beberapa mobil lagi yang terparkir di garasi.

“Bisa. Tapi maaf nona, pekerjaanku menjaga rumah ini jadi—“

“Kalau begitu panggilkan taksi. Cepat!” Tanpa sadar aku membentaknya. Dia bergegas pergi dan beberapa saat kemudian kembali dengan sebuah taksi.

“Terima kasih.” Ucapku sebelum masuk ke dalam taksi. Aku menyebutkan alamat kantor Kyuhyun dan kemudian taksi itu pun melaju membelah jalanan kota seoul yang sibuk. Aku tidak bisa menghentikan pikiranku tentang fakta bahwa ibuku sudah meninggal dan kemungkinan besar dibunuh oleh suamiku sendiri. Aku kembali terisak dan menangis keras, sampai-sampai supir taksi gemuk itu menoleh. Tiba-tiba aku teringat Krystal dan berniat untuk menghubunginya. Tapi kuurungkan mengingat sekarang aku tengah menghadapi seorang psikopat. Aku tidak ingin Krystal juga ikut terluka.

Taksi sampai di persimpangan dekat kantor Kyuhyun, ketika aku melihat Kyuhyun dengan mobilnya datang dari arah kantor dan berbelok ke jalan bebas hambatan.

“Ahjussi, ikuti mobil itu, cepat!” Aku menepuk-nepuk pundak supir itu, panik kalau-kalau mobilnya tidak terkejar. “Tetap jaga jarak, ahjussi.” Aku tidak ingin dia menyadari kalu ada yang mengikutinya. Meskipun sedikit menggerutu, supir taksi itu tetap mengikuti instruksi ku.

Hari semakin gelap, sementara mobil Kyuhyun terus melaju sampai pinggiran kota seoul. Ini sudah sangat jauh. Tiba-tiba mobil Kyuhyun memasuki area pabrik yang tak terurus. Banyak gedung-gedung tua yang kusam dan alat-alat berat karatan di halamannya yang luas. Mobil Kyuhyun masuk ke salah satu gedung. Apa yang dilakukannya di sana malam-malam seperti ini? Taksi mendadak berhenti dan aku terdorong ke depan.

“Ada apa ahjussi? Kenapa berhenti di sini?? Sudah kubilang ikuti mobil itu!”

“Kau gila? Siapa yang mau masuk ke sana malam-malam seperti ini? Kalau kau mau, masuk saja sendiri! Sekarang bayar ongkos taksinya dan cepat keluar!” Dia balas membentakku. Dengan enggan, aku memberikan semua uang yang tersisa di kardiganku.

“Apa ini? Bahkan tidak mencapai setengah dari tarifnya. Kau mempermainkanku ya??”

“Tapi itu—“

“Sudah, sudah. Cepat turun sana! Bisa gila aku!”

Aku pun turun dan menyaksikan taksi itu perlahan pergi. Aku sadar kalau sekarang aku benar-benar sendirian di tempat ini. Tiba-tiba aku menyesal dan ingin menyusul taksi itu. Tapi demi sepotong tangan yang Kyuhyun hadiahkan padaku tadi, aku harus menemuinya dan memastikan bahwa dia hanya bercanda dan mengerjaiku saja. Setelah mengikat rambutku ke belakang, aku pun memberanikan diri melangkah mendekati gedung.

Pintu gerbang gedung kusam itu terbuka sedikit. Sepertinya tidak ada penjaga di dalamnya. Perlahan aku menyentuh pintu gerbang itu dengan tanganku dan mendorongnya sedikit. Tidak terlihat mobil Kyuhyun terparkir di pekarangannya. Aku pun terus melangkah ke dalam. Meski sedikit takut, ada sesuatu yang mendorongku melakukan ini.

Aku mengendap-endap ketika memasuki sebuah lorong panjang yang diterangi beberapa lampu temaram. Sepertinya lorong ini mengarah ke sebuah basement atau apa. Aku yakin Kyuhyun masuk ke dalam sini karena aku bisa melihat jejak roda mobilnya. Aku tersentak kaget ketika sebuah tangan yang terasa dingin menarikku dan membekap mulutku. Seketika rasa takut menyerangku. Bagaimana kalau itu Kyuhyun dan dia akan membunuhku sekarang juga?

“Apa yang kau lakukan di sini???” Seorang pria menghempaskanku membentur sebuah tengki. Dia bukan Kyuhyun, tapi aku tidak mengenalnya. Apa mungkin dia anak buahnya? “Tunggu, kau pengantin wanitanya Kyuhyun kan? Aku datang ke pernikahanmu kemarin dengan memberikan bunga dan mengucapkan selamat. Kau tidak ingat?”

Aku memperhatikannya. Kulit putih kekuningan, wajah kecil, mata sipit, rambut hitam tebal yang sepertinya tidak disisir pagi ini, kaki yang pendek dan jari-jari tangan yang kecil, jelas-jelas aku tidak melihatnya kemarin. Aku menggeleng. Dia mendesah kesal sambil menarik rambutnya.

“Aku Yesung, temannya Kyuhyun. Aku bekerja di perusahaannya juga, meskipun aku bukan asisten pribadinya, tapi kami lebih dekat dari pada yang kau bayangkan.” Dia menatapku. “Aku serius. Bahkan kemarin kita berfoto bersama. Masih tidak ingat?”

Aku menggeleng sedikit. “Maksudku, mungkin aku akan ingat, tapi aku sedang tidak memikirkan hal itu. Apa kebetulan kau anak buahnya dan membantunya melakukan kejahatan?” Aku mengatakannya dengan sedikit keraguan.

“Ya, ya, aku memang anak buahnya, di kantor. Dan aku tidak mengerti apa maksudmu dengan melakukan kejahatan.” Dia mundur beberapa langkah membuat jarak yang lebih lebar denganku.

“Seperti, membunuh seseorang lalu memotong-motong tubuhnya dan menyebarkannya ke seluruh penjuru kota dan,, seperti itu lah.” Aku beranjak menjauhi tengki berlumut di belakangku, mengusap punggungku yang sepertinya sudah terkena lumut itu.

“Tentu saja tidak! Kyuhyun itu orang baik. Dia bahkan tidak tega membunuh seekor serangga saja.” Yesung berhenti sejenak. “ Tapi memang tadi dia berlaku aneh di kantor. Dia juga melakukan sebuah transaksi mencurigakan dengan mentransfer sejumlah besar uang ke sebuah rekening di Swiss. Ketika aku memeriksa surel nya, dia membuat kesepakatan aneh dengan seseorang. Takutnya dia dijebak atau apa, aku meminta bantuan seorang polisi dan mengikutinya sampai kesini.” Dia menunjuk seseorang di belakangnya. Aku cukup terkejut karena dari tadi tidak merasakan kehadirannya. “Namanya Choi Minho. Detektif kepolisian Gangnam yang terkenal jenius.” Polisi muda itu menganggukan kepalanya.  Sepertinya aku pernah melihat orang ini di suatu tempat. Tapi di mana tepatnya?

“Oh ya, apa yang kau lakukan di sini??” Pertanyaan Yesung mengalihkan perhatianku dari Minho.

Aku menatapnya ragu. Apa aku harus menceritakannya? “A..aku mengikuti Kyuhyun sampai ke sini, karena aku pikir, dia telah membunuh ibuku..” Aku pun menceritakannya pada Yesung yang memasang wajah tidak percayanya.

“Mustahil. Kyuhyun tidak mungkin melakukan hal seperti itu! Dia orang baik!”

Aku mengangkat bahuku. Ragu bahwa dia benar-benar orang baik setelah melihat seperti apa sikapnya tadi.

“Baiklah, kau pulang saja sekarang. Biar kami yang menanganinya dari sini. Ini, mobilku terparkir di belakang gedung. Kau bisa memakainya.” Dia menyerahkan sebuah kunci yang diambil dari saku celana jins nya.

“Tidak.” Aku menggeleng. “Aku tidak bisa pergi sekarang. Aku ingin bertanya langsung pada Kyuhyun kenapa sikapnya berubah setelah semua yang dia lakukan.”

“Baiklah, aku akan menanyakanannya nanti. Sebaiknya kau pulang. Kita tidak tahu apa yang akan kita temui di sana.” Yesung kembali menyodorkan kunci mobil itu ke tanganku.

“Bisa jadi ibuku dibunuh olehnya!” Aku menepis tangannya dengan keras.

“Baiklah, baiklah..” Yesung memijat dahinya. “Apa kau, sudah menghubungi ibumu? Kau sudah memeriksa keadaannya?”

Aku terdiam. Ingat dengan satu hal penting yang aku lewatkan. Aku pun menggeleng dengan lemah.

“Dia panik. Orang itu memberikan potongan tangan ibunya yang 90% bisa dikonfirmasi kalau itu asli, mengingat ada cincin pernikahan yang diminta ibunya pada malam sebelumnya. Yang terlintas dalam otaknya adalah bahwa tubuh ibunya sudah tercerai-berai dan disebar ke semua tempat. Maka hal yang terakhir yang dia lakukan adalah mencari pembenaran bahwa suaminya tidak melakukan hal itu.” Minho, polisi muda itu berjalan mendekati kami berdua.

Yesung mengusap wajahnya. “Baiklah kau ikut. Tapi tetap berada diantara aku dan Minho.”

 

*~*~*

 

Sudah hampir lima menit kami bertiga menyusuri lorong demi lorong masuk lebih jauh ke dalam gedung ini. Aku berjalan perlahan mengikuti Yesung di depanku sementara Minho berjalan di belakangku. Sesekali Yesung membuka pintu yang terletak di sisi-sisi lorong, tetapi semuanya kosong dan gelap. Sumber cahaya di sini hanya berasal dari beberapa lampu yang tergantung di lorong utama. Sejauh ini kami belum menemukan tanda-tanda keberadaan Kyuhyun. Dan entah kenapa itu membuatku semakin khawatir.

KRAAK

Bunyi berderak itu nyaris membuatku berteriak dan melompat kaget. Bunyinya berasal dari sebuah titik di sebelah kanan dari tempat kami berdiri. Yesung mengeluarkan sesuatu dari saku belakang jins nya. Dan betapa kagetnya aku begitu menyadari bahwa itu adalah sebuah pistol.

“Hei! Kau dapat dari mana senjata berbahaya itu?? Ku kira hanya orang-orang tertentu yang boleh memilikinya.” Aku setengah berbisik dengan mencondongkan badan ke arah Yesung.

“Dan aku adalah bagian dari orang-orang tertentu yang kau sebut itu.” Jawabnya tanpa berbalik ke arahku.

Aku menoleh ke arah Minho. Dia pun sudah memegang sebuah senjata di tangannya dan memasang posisi seperti jagoan di film-film yang akan menangkap musuhnya. Aku menghela napas. Apa salahku sampai-sampai harus terlibat dengan orang-orang yang membawa senjata seperti ini?

BRAAAKK

Kali ini suara itu terdengar lebih keras. Yesung memberikan isyarat untuk mengikutinya dan mulai berjalan ke arah suara.

“Kau bisa berpegangan padaku jika kau takut.” Katanya sambil sedikit tertawa. Dia masih bisa tertawa di saat-saat seperti ini?? Tapi aku pun menuruti perkataannya juga. Bukan berarti aku takut, hanya saja..

Aku menabrak punggung Yesung ketika dia tiba-tiba berhenti berjalan ketika memasuki sebuah ruangan tanpa pintu yang diterangi oleh cahaya kuning dari lampu kecil yang menggantung di atasnya. Sejauh yang dapat kulihat dari punggung Yesung, di ruangan ini hanya terdapat beberapa barang yang disimpan di sudut-sudut ruangan.

Aku melepaskan pegangan di ujung kemeja Yesung sambil beralih ke sampingnya. “Ada apa? Kenapa berhenti? Kau tau tadi aku..”

Kalimatku terpotong karena Yesung menggerakkan dagunya ke depan. Aku menoleh ke arah yang dia lihat dan betapa kagetnya begitu menangkap sosok Kyuhyun yang tengah duduk di atas sebuah kursi kayu di tengah ruangan dengan menyilangkan kaki kanannya. Dia menyeringai ke arahku. Mendadak sekujur tubuhku membeku. Dia terlihat lebih menyeramkan daripada saat di rumah tadi.

Aku maju selangkah. “Kyuhyun-ssi.. tolong katakan kalau kau hanya bercanda. Tolong katakan bahwa tadi itu hanya mainan dan kau tidak—“

“Membunuh ibumu. Iya, itulah yang aku lakukan. Dan jangan lewatkan fakta bahwa aku telah membantumu mengambil kembali cincin milikmu. Setidaknya ucapkan terimakasih.” Dia tersenyum polos. Dan itu membuat darah di seluruh tubuhku bergejolak. Aku memang menyadari kemungkinan ini tapi sebagian diriku berharap bahwa dia akan menyangkalnya, dia akan berkata bahwa itu hanya main-main saja. Tapi melihat reaksinya barusan, kedua kakiku melemas. Aku bisa merasakan badanku terhuyung ke samping tetapi Yesung menahan lenganku sebelum aku terjatuh ke lantai.

“Kyuhyun-ah…” Yesung menoleh ke arah Kyuhyun. “Kau berbohong kan? Kau tidak mungkin melakukan hal itu. Lelucon apa yang sedang kau mainkan, huh?”

“Aku tidak bercanda. Dan aku tidak berbohong.” Dia berdiri dan mengitari kursinya. “Dan Choi Jin Ri, aku tahu tadi kau mengikutiku seperti tikus kecil. Tanpa kau sadari masuk ke tempat terakhir yang akan kau datangi di muka bumi ini.” Dia menyeringai dengan mata berbinar menatap tepat ke dalam mataku.

“Kau..” Suaraku tercekat di tenggorokan. Air mataku mendesak keluar membuat pandanganku kabur. Aku mengusapnya sebelum benar-benar terjatuh. “Kau benar-benar.. membunuh ibuku?” Tanyaku dengan suara kecil. Tapi aku yakin dia dapat mendengarnya.

“Tentu saja. Mana mungkin aku pura-pura membunuh seseorang?” Kyuhyun tertawa seolah pertanyaanku barusan sangat lucu untuknya.

“Tapi kenapa??” Aku merasa pusing ketika nada bicaraku meninggi.

Dia tampak berpikir sejenak. “Karena dia telah membuat Kyuhyun bahagia dengan mencapai keinginannya..” Lirihnya. Tapi masih jelas terdengar ke seluruh ruangan.

“Apa maksudmu? Terdengar aneh di telingaku.” Yesung mengatakan hal yang aku pikirkan.

Dia mengangkat kepalanya dan tersenyum. Senyum itu lagi. Senyum yang membuatku merinding setiap kali melihatnya.

“Hidup Kyuhyun terlalu sempurna. Dia selalu mendapatkan yang dia inginkan. Dia tidak pernah menderita. Makannya aku datang untuk menghancurkan hidupnya dan merebut semua kebahagiaan yang dia miliki.” Dia maju beberapa langkah. “Terutama kau, Choi Jin Ri.”

“Kau… kau seperti orang lain, Kyuhyun.” Tanpa sadar aku menyuarakan apa yang ada di pikiranku.

“Dia terdengar seperti seorang psikopat.” Bisik Yesung. Diam-diam aku mengangguk.

“Seperti orang lain?” Dia tertawa. “Memangnya sudah sejauh apa kau mengenal seorang Cho Kyuhyun? Kau tidak tahu apa pun tentangnya. Masa lalunya, hal yang dia sukai, hal yang dia benci, teman-temannya… coba katakan apa yang kau tahu tentangnya. Aku akan mendengarkan.” Dia melipat tangannya di dada

Kata-katanya barusan benar-benar menusukku sangat dalam. Dilihat dari sisi mana pun apa yang dikatakannya itu memang benar. Aku tidak benar-benar mengenalnya tetapi bersedia menikah dengannya. Dan ternyata aku menikahi seorang psikopat!

“Sudah kuduga, kau tidak tahu apapun tentang Kyuhyun. Aku akan melenyapkanmu sekarang dan melihatnya menderita karena kau tidak akan ada lagi di dunia ini.”

“Hey! Ada apa dengan cara bicaramu? Kenapa selalu menggunakan orang ketiga untuk menunjuk dirimu sendiri?” Yesung membentaknya.

Kyuhyun mengalihkan pandangannya pada Yesung dan tiba-tiba rahangnya mengeras. “Karena aku memang bukan Cho Kyuhyun, bodoh.” Sebelum aku sempat memproses kata-katanya, dia menarik kulit lehernya sendiri dan terlihat sesuatu seperti topeng yang terbuat dari silikon terlepas dari kepalanya. Aku berteriak dan menutup mulut dengan kedua tangan.

Dia bukan Kyuhyun! Dia orang lain yang memakai topeng dan berpura-pura menjadi Kyuhyun!

Matanya masih tertuju padaku ketika dia melempar topeng silikon itu ke lantai dan melepas sebuah alat kecil di lehernya kemudian memasukkannya ke dalam saku.

“Kau.. kau bukan..” Yesung yang berdiri sedikit di depanku perlahan mundur.

“Ya, kau benar, aku bukan Kyuhyun. Perkenalkan, namaku Shim Changmin. Orang yang akan mengakhiri hidupmu di sini sekarang juga.” Dia berkata dengan suara yang berbeda dari suara Kyuhyun. Dan dia tersenyum seperti itu lagi dengan wajah yang benar-benar asing di mataku. Tidak, wajah itu tidak benar-benar asing. Aku pernah melihatnya, aku tahu orang ini! Dia ada di foto yang ku temukan di novel Kyuhyun tadi! Benar, senyumnya sama dan rahangnya sama persis. Dan aku juga ingat kalau Minho itu… Tunggu!

Aku menoleh ke belakang tetapi terlambat. Minho sudah menjatuhkan Yesung ke lantai, menahannya dalam posisi tengkurap dan mengambil senjata yang ada di tangannya. Yesung berusaha melepaskan diri tapi sia-sia. Postur tubuh Minho lebih besar darinya.

“Lariii!! Cepat larii!!!” Teriak Yesung sebelum Minho menyikut punggungnya beberapa kali dan dia mulai melemah.

Panik, aku mengarahkan kakiku keluar dari ruangan ini. Tetapi, sebelum sempat berpikir ke mana arah yang akan kutuju dan apa yang akan kulakukan, sebuah tangan membekapku dengan kain yang berbau menyengat. Aku memberontak. Menendang dan meninju tak tentu arah. Tapi perlahan mataku terasa berat dan semuanya gelap.

 

to be continued..

 

Hai semuanya. Sebelumya, makasih udah baca dan support cerita ini. Ada sedikit pemberitahuan-atau apalah itu-, mungkin part 3 nya akan sedikit lama dipost karena author mulai UAS senin depan ToT dan eomma udah mulai ngomel-ngomel masalah waktu make komputer :3 Jadi, tolong sabar ya nunggu lanjutannya.. Sebenernya cerita ini udah ditulis sampe akhir sih dari udah lamaaa banget, cuman masih perlu banget di edit di sana-sini. Huuhhuu

Oke deh, ketemu lagi setelah UAS ya~~ Kalian good luck juga UAS nyaa (^o^)9

Iklan

4 thoughts on “The Psycho You (Part 2)

  1. seolri

    kirain bakal dipost nya malam….aduh bingung mau komen drimana bagus bgt ni ff….awalnya aq kira kyuhyun punya kepribadian ganda trnyata itu bukan kyuhyun…trus kyuhyun ada dimana donk?please jgan buat sad ending…ditunggu .next chapnya….gomawo

  2. lazygirl13 Penulis Tulisan

    Iyaa tadinya mau di post malem… cuman bentrok sama tugas.. maap yaa hehe
    Hwahh… makasih banyaakk… gak nyangka bakal ada yang bilang bagus. aku kira bakal dibilang aneh ceritanyaa.. hehe….
    Humm kyuhyun di mana ya? Mungkin diumpetin sungmin. Hhehe
    Oke sip.. ne cheonma 😀 😀

Gimmie ur comment ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s