The Psycho You [Part 1]

The Psycho You

“terlalu banyak kesan dari penampilannya jadi aku tidak bisa menyimpulkan apa-apa kecuali dia adalah tipe orang baik-baik”

Aku berlari sangat kencang hingga rasanya kakiku melayang di udara. Rasa takut menghantuiku di tengah lorong gelap ini. Rasa takut akan tertangkap oleh orang yang mengejarku dengan aura membunuh yang sangat besar di belakang sana. Hatiku kembali sakit tiap kali mengingat orang itu. Dingin. Udaranya yang lembab mengenai kulit tanganku. Air mata tak mau mengering di pipiku karena aku terus saja menangis. Pandanganku memang mengabur karena air mata ini. Beberapa kali aku mengerjap untuk menghilangkannya karena tanpa itu pun aku hanya bisa melihat udara hampa di depan sana. Dan hal yang paling kutakutkan pun terjadi. Aku menabrak sesuatu sampai akhirnya terpental ke atas lantai dingin. Semuanya menjadi gelap dan hal yang terakhir kudengar adalah suara teriakanku sendiri.

*~*~*

Namaku Choi Jin Ri. Aku baru mendapatkan gelar sarjanaku satu minggu yang lalu. Aku mengambil jurusan sastra korea. Aku memilih untuk menjadi guru sastra karena dulu aku mengagumi guru sastraku . Saat ini aku sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti tes agar bisa menjadi guru sekolah menengah. Aku berharap banyak untuk ini.

Sejauh ini kehidupanku baik-baik saja. Setidaknya sampai tadi pagi ketika ibuku memberitahu perihal rencana perjodohanku dengan anak dari seorang pengusaha kaya. Tentu saja aku menolak. Sesulit apapun kehidupan kami selama ini, aku masih bisa bertahan. Lagipula sebentar lagi aku akan bekerja. Tentu bisa mengurangi sedikit beban ibu. Tapi dia tidak mendengarkanku. Dia bersikeras bahwa aku harus mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada dirinya. Dan caranya adalah dengan menikahi pewaris perusahaan besar. Setidaknya itu yang dia percayai.

Aku tetap membujuk ibu untuk membatalkan perjodohan itu dengan alasan aku sudah memiliki pilihan sendiri. Tapi sayangnya dia tidak percaya. Katanya, seandainya pun ada tidak mungkin akan menjamin kehidupan yang layak untukku. Ternyata aku memang masih tidak bisa membohongi ibuku ini.

Ibuku memang sangat materialistis. Mungkin karena kehidupannya selama ini yang sulit dan kegagalan pernikahannya karena masalah ekonomi juga. Aku tidak tahu bahwa itu akan berdampak besar pada kehidupanku. Karena sekarang aku merasa seperti tokoh di novel-novel roman yang sering aku baca.

Usahaku untuk membatalkan perjodohan itu terhenti ketika dengan satu kalimat saja ibu mematahkan harapanku supaya perjodohan itu batal.

“Kau terlambat. Mereka akan datang malam ini untuk menemuimu secara langsung kemudian menetapkan tanggal pertunangannya. Diam saja, dan jangan mengecewakan ibu.”

Badanku langsung lemas. Aku bisa melihat mimpi-mimpiku menguar ke udara. Fokusku menghilang. Karena itu kaki ku terluka ketika membereskan rumah. Tanganku juga terkena pisau saat memasak. Aku tidak bisa mendengar suara ibu dengan jelas ketika dia memakaikan gaun putih selutut dengan lengan panjang  yang baru dia beli untukku. Aku hanya menatap bayangan diriku di cermin ketika ibu mengulas make up ke wajahku dan menata rambut panjang ku. Sampai-sampai bayangan yang kulihat bukan seperti bayanganku biasanya.

Aku duduk diam di sofa sambil memperhatikan ibu yang sedang mengatur posisi beberapa barang agar rumah mungil kami terlihat sedikit lebih luas. Dia tersenyum bahagia. Mungkin karena putri satu-satunya bisa mewujudkan impiannya yang belum sempat terwujud. Mendapatkan pria kaya. Jujur saja, dengan gaun itu ibu terlihat cantik. Dia belum terlalu tua dan dia bisa memakai make up dengan baik. Sebenarnya jika ibu mau, sekarangpun dia bisa mendapatkan pria kaya. Banyak diluar sana pengusaha-pengusaha seusia ibu. Mungkin ibu bisa menjadi istri keduanya atau mungkin simpanannya. Setidaknya itu lebih baik daripada menggadaikan hidup putrinya seperti ini.

Lamunanku pecah ketika suara bel berbunyi. Ibu setengah berlari ke depan untuk membukakan pagar. Dan mendadak badanku bergetar ketika mendengar suara pintu terbuka dan langkah-langkah kaki yang makin mendekat. Sayup-sayup terdengar percakapan tentang cuaca yang dingin dan basa-basi menanyakan kabar. Dengan jelas aku bisa mendengar kata ‘besan’ yang diucapkan oleh ibu. Air mataku berusaha menerobos keluar tapi aku menahannya dengan kuat.

“Oh? Ini, Choi Jin Ri-ssi?” seorang perempuan dengan gaun panjang berwarna coklat dan mengenakan mantel tebal menatapku dengan kagum. Usianya kira-kira sama dengan ibu. Wajahnya tegas dan lembut secara bersamaan. Rambut bob nya sedikit bergelombang. Aku yakin itu nyonya Cho. Dibelakangnya aku bisa melihat laki-laki tua sekitar lima puluh tahunan memakai jas formal warna putih. Yang sudah pasti adalah Tuan Cho. Aku perlahan berdiri, dan membungkuk. Kemudian sedikit tersenyum dan memperkenalkan diri. Nyonya Cho menyambutnya dengan baik. Sepertinya dia terkesan padaku. Entah ini awal yang baik atau buruk.

Ibuku dengan ramah mempersilakan mereka duduk. Mereka hanya berdua. Sepertinya putra mereka tidak ikut. Hah, sudah kuduga. Dia pasti menolak perjodohan ini. Dia pewaris tunggal perusahaan ayahnya, jika dia mau, dia bisa mendapatkan yang lebih kaya atau bahkan lebih cantik dariku. Dijodohkan dengan orang sepertiku hanya akan menjadi penghinaan untuknya. Sebenarnya untukku juga. Dijodohkan seperti ini membuat jarakku dengan mimpi-mimpiku semakin jauh. Padahal tinggal sedikit lagi aku bisa menggapainya. Terlebih lagi alasan dibalik perjodohan ini adalah uang. Tiba-tiba aku merasa jijik.

Ibu menyuruhku untuk membawakan minum. Aku pun pergi untuk menyiapkan teh hangat. Aku sempat berpikir untuk membubuhkan racun dalam minuman mereka. Tapi itu tidak terjadi karena kami tidak memiliki racun apa pun di dapur kami. Aku pun dengan pasrah membuat teh normal seperti biasanya saja.

Aku berjalan kembali ke ruang tengah (kami tidak memiliki ruang tamu) dengan membawa nampan berisi perlengkapan minum teh antik milik mendiang ayahku yang memang hobi meminum teh. Sebelumnya  aku berlatih tersenyum terlebih dahulu. Dan ketika aku sampai di sana, seseorang melangkah masuk dari arah pintu depan.

“Aigoo, tidak perlu membawa apa-apa, menantu. Membuatmu repot saja. Aigoo..” Ibu menerima rangkaian bunga dari seorang laki-laki. Dia mengenakan setelan jas semi formal berwarna hitam dan didalamnya sweater berwarna abu-abu. Aku tidak bisa melihat wajahnya karena tertutup oleh ibu. Aku pun berjalan lebih mendekat.

“Benar kan, omonim? Aku pikir juga seperti itu. Tapi ibu tetap memaksa. Katanya agar lebih sopan. Ibu memang merepotkan sekali, ya?” Perkataan laki-laki itu membuat kedua orangtuanya tertawa. Omonim? Haha, aku sungguh-sungguh ingin tertawa sekarang. Baru bertemu sudah memanggil seperti itu. Yang benar saja. Dan itu artinya aku salah. Orang yang akan dijodohkan denganku ternyata dating. Menyebalkan. Aku berjalan mendekati meja dengan tangan sedikit bergetar. Hampir seratus persen perjodohan ini akan berlangsung. Kukira akan ada pemberontakan atau semacamnya dari putra keluarga itu. Mengecewakan sekali.

Sepertinya belum ada yang menyadari kedatanganku. Aku aku menuangkan teh ke dalam cangkir satu per satu. Masih dalam diam, menghindari mengarahkan tatapan mataku ke arah nya.

“Tapi meskipun begitu, tolong terima saja. Aku sendiri yang memilih.” Nada sombong terdengar dalam ucapannya. Aku mendengus, menahan keinginan untuk berteriak. Perlahan aku duduk dan menaruh cangkir-cangkir di atas meja.

Aku bisa mendengar ibu menghela napas sebelum berbicara “Baiklah, terima kasih banyak. Aigoo, cantik sekali bunga-bunga ini. Aku akan menyimpannya disana.” Ibu beralih ke meja kecil di sudut ruangan, menyisakan ruang kosong yang cukup besar antara aku dan orang itu.

“Iya, cantik sekali. Seperti….”

“Teh nya sudah siap. Silakan diminum.” Aku bergumam sambil menganggukkan kepala sedikit, lalu berdiri dengan mendekap nampan. Tapi kemudian, aku sedikit kaget karena semua orang di ruangan itu berhenti bicara dan hanya menatapku. Aku berdehem, dan menyelipkan rambutku ke belakang telinga untuk menyembunyikan kegugupanku.

“.. seperti putrimu.” Orang itu, maksudku, putra dari tuan dan nyonya Cho melanjutkan kata-katanya yang terhenti. Kemudian dia berjalan mendekat dan mengulurkan tangannya sambil tersenyum. “Kyuhyun. Namaku Cho Kyuhyun. Kau?”

Sekarang aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Matanya bulat dan berbinar. Kulit putihnya seperti bercahaya diterpa cahaya lampu. Senyumnya, terlihat manis dengan caranya sendiri. Dia, yah,, dia lumayan,, tampan. Sepertinya dia seusia denganku, atau mungkin lebih tua beberapa tahun. Entahlah, terlalu banyak kesan dari penampilannya jadi aku tidak bisa menyimpulkan apa-apa kecuali dia adalah tipe orang baik-baik.

Dia menunjuk tangannya yang terulur dengan matanya. Ah, ya ampun, apa yang aku lakukan. Aku menyambutnya lalu menyebutkan namaku sambil sedikit membungkuk. Aku bisa melihat tuan dan nyonya Cho yang tersenyum di balik punggung Cho Kyuhyun.

“Aku sudah tahu.” Katanya lagi sambil tersenyum, tanpa melepas tangannya.

Tangan kami terlepas ketika ibu datang dan menyuruh Kyuhyun untuk duduk. Aku pun kembali ke dapur untuk menyimpan nampan. Aku menatap tanganku yang tadi berjabat dengan Cho Kyuhyun. Kemudian memejamkan mata sambil bersandar ke lemari makan di belakangku. Mendadak tubuhku terasa bergetar dan mataku memanas. Apakah laki-laki ini memang takdirku? Apakah dia sebanding dengan mimpi-mimpiku yang harus kulepas demi perjodohan ini? Aku tidak tahu. Semoga saja ada kata ‘happy ending’ untukku, seperti di novel-novel itu.

Malam itu mereka pulang setelah memberitahukan kapan pertunangan dilangsungkan dan secara tidak langsung, melakukan interogasi kepadaku. Itu karena nyonya Cho mengajukan segala macam pertanyaan.

Minggu depan. Ya, minggu depan. Itu waktu yang diusulkan nyonya Cho. Karena tidak ada tanda-tanda keberatan dari Kyuhyun dan ibuku, maka akan dilakukan sesuai keinginan nyonya Cho. Aku sendiri tidak bisa mengajukan keberatan karena ibu selalu meremas tanganku dengan kuat saat aku akan berbicara.

“Chukkae Jin Ri-a, mulai saat ini hidupmu akan penuh dengan kebahagiaan. Ibu merasa tidak sia-sia telah membesarkanmu menjadi gadis cantik seperti ini. Kau lihat tadi kan? Mereka sangat senang denganmu. Ibu punya firasat baik tentang ini.”

Itulah kurang lebih kalimat-kalimat yang ibu ucapkan setelah mereka pergi. Bahwa dia bersyukur, dia senang, dia bahagia. Tapi anehnya dia tidak pernah sekalipun bertanya apa aku merasakan hal yang sama dengannya.

*~*~*

      Dua hari sejak malam itu. Aku masih tidak ingin memercayai perihal perjodohan, pertunangan, atau pernikahan itu sama sekali. Selama dua hari ini aku berusaha mengalihkan pikiranku dari masalah perjodohan ataupun pertunangan. Aku lebih sering menghafal untuk tes, lebih sering membereskan rumah dan hal-hal lainnya. Seperti pergi keluar dengan teman misalnya. Seperti sore ini.

Aku berada di sebuah kafe dengan tiga orang teman kuliahku. Lee Taemin, Jung Krystal dan Kang Minhyuk. Sebenarnya aku tidak terlalu mengenal Minhyuk karena kami berbeda fakultas. Dia ada di sini karena Taemin mengajaknya. Sepertinya mereka teman dekat. Sementara Taemin, kami sama-sama mengikuti tes menjadi guru, dan kami di sini untuk sedikit bersenang-senang. Krystal, dia temanku sejak SMA. Kami teman baik, bahkan bisa dibilang sahabat. Jadi aku mengajaknya untuk keluar. Oh ya, meskipun kami teman dekat, aku sengaja tidak menceritakan masalah perjodohan itu. Aku bahkan ingin melupakannya saja kalau bisa. Jadi mana mungkin aku memberitahu Krystal. Meskipun Krystal tahu, tidak akan merubah apapun kan. Hanya akan membuatku semakin tertekan karena dia pasti akan membicarakannya setiap waktu.

“Oh iya, bicara tentang dokter, kalian tau Yoo Na? Im Yoo Na dari fakultas kedokteran itu. Yang cantik, pintar, dan terkenal diseluruh kampus.” Krystal mengganti topik pembicaraan. Aku mengangguk lalu menyeruput bubble tea milikku.

“Sebenarnya tidak secantik itu.” Minhyuk tampak tak acuh.

“Ya, aku tahu. Kenapa?” Taemin menegakkan posisi duduknya.

“Aku dengar dia akan segera menikah. Dengan artis yang sekarang sedang terkenal.”

Menikah? Uh, cangkir bubble tea ku hampir terlepas jika tangan kiriku tak cepat menahannya. Aku berusaha mengatur ekspresiku agar tidak menunjukkan perubahan drastis supaya mereka tidak curiga. Tapi terlambat. Minhyuk melihatku dengan pandangan aneh.

“Benarkah? Kenapa sangat mendadak. Yoo Na bahkan masih tersisa satu tahun lagi waktu kuliahnya.”

“Yang aku dengar sih, si artis itu mencampkannya begitu saja. Jadi Yoo Na mengabari media bahwa dia tengah mengandung anaknya. Kasihan sekali. Dia sedang ada di puncak karirnya.” Krystal meneguk latte nya dengan santai seolah yang dikatakannya tidak memberikan pengaruh padaku.

“Memang siapa artis itu??” Tanya Taemin penasaran.

“Lee Seung Gi. Kau tahu kan?” Jawab Krystal. Yang dijawab dengan anggukan oleh Taemin.

“K..kau ini. J.. jangan bicara yang tidak-tidak. Mungkin ada keadaan lain yang kita tidak tahu. Seperti dijodohkan. Atau mungkin mereka memang sudah lama berpacaran. Kau tidak tahu pasti, kan? Jangan menebar gosip. Arra?” Pembelaan itu sebenarnya bukan untuk Yoo Na. Aku mengatakannya lebih untuk membela diriku sendiri.

Krystal melengos. “Arrasseo ahjumma.” Dia pun membicarakan hal lain.

Yoo Na yang sebegitu pintar, cantik dan terkenal saja masih mendapat komentar negatif tentang pernikahan mendadaknya—jika dia memang menikah— apalagi aku yang biasa-biasa saja ini. Bisa-bisa aku dituduh yang lebih macam-macam dari itu. Sepertinya teman-temanku memang tidak boleh tahu tentang perjodohanku. Aku memang bukan orang yang terlalu memperdulikan tanggapan orang lain. Tapi untuk kali ini saja, aku ingin menyelamatkan satu-satunya hal yang masih tersisa dari masa kuliahku. Nama baik. Ya, aku bukan murid yang jenius, aku juga tidak begitu cantik—jika pembandingnya adalah Yoo Na. Jadi yang kumiliki hanya nama baik. Aku akan pertahankan itu.

“Oh. Jin Ri-a, scarf yang bagus. Cocok untukmu.” Taemin tersenyum. Disambut lirikan penuh arti dari Krystal.

Aku mengucapkan terimakasih sambil merapikan letak scarf yang baru kubeli kemarin, lalu mengalihkan pembicaraan tentang teh yang sedang kuminum dan menu-menu di kafe ini. Scarf ku pun tidak menjadi perhatiannya lagi. Syukurlah.

Taemin memang sering menunjukkan perhatiannya. Aku tau, tapi aku tidak bisa menanggapinya lebih. Kami berteman, dan aku ingin terus seperti itu saja. Terlebih lagi keadaanku sekarang,,

“Hei Jin Ri, lihat, laki-laki di sana itu tampan sekali. Ya tuhan, aku belum pernah melihat makhluk seperti dia. Oh-oh, dia melihat ke arah kita!” Aku menoleh ke arah yang dimaksud Krystal. Penasaran dengan hal yang membuatnya menjadi histeris seperti ini. “Ya ampun, dia berjalan mendekat!” Bisiknya sambil berbalik badan dan berpura-pura membaca menu.

Dia memakai sweater biru laut yang dilapisi jaket beludu hitam dan sebuah mantel hitam tebal yang panjangnya hampir menutupi separuh kakinya yang dibalut celana jeans hitam. Meskipun dia dilingkupi warna hitam, tapi dia terlihat bersinar. Itu pasti…

Aku yang begitu kaget dengan apa yang mataku ini lihat, tanpa sengaja menumpahkan bubble tea di tanganku hingga mengenai scarf dan jaketku. “C..Cho Kyu..hyun-ssi?” Benar. Itu Cho Kyuhyun. Dia berada tepat didepanku sekarang. Kenapa harus bertemu di sini sih? Maksudku, ada banyak sekali kafe di kota ini, kenapa dia harus datang ke kafe ini? Kafe yang di dalamnya ada aku.

Teman semejaku terlihat heran. Sama sepertiku.

“Choi Jin Ri. Ayo.” Dia mengambil mantel dan tas ku yang tersampir di kursi lalu seenaknya saja menarik tanganku sampai aku berdiri dari kursi.

“T..tapi… Kemana?”

“Kau akan tahu nanti.” Dia menarik tanganku sekali lagi, tapi kemudian dia berhenti. “Maaf, mungkin sekarang bukan waktu yang tepat untuk memperkenalkan diri. Sepertinya lain kali. Boleh aku ambil calon istriku sekarang? Terimakasih.” Setelah mengucapkan kata-kata yang di telingaku lebih seperti pengumuman perang itu, dia sedikit membungkuk, lalu sekali lagi menarikku meninggalkan kafe itu, meninggalkan mereka dengan ekspresi bingung luar biasa karena kata ‘calon istri’ yang dengan mudahnya diucapkan Kyuhyun barusan.

Di dalam mobilnya, aku tidak membuat suara sekecil apapun. Hanya hatiku yang sibuk berteriak merutuki kelakuan Kyuhyun tadi. Jika kejadian tadi menyebar, mungkin aku juga akan sama seperti Yoo Na. Oh, nama baikku.

Aku hanya melihat ke depan, atau sesekali melihat keluar jendela di sampingku. Kyuhyun juga sepertinya tidak berniat mengajakku mengobrol atau apa pun. Sampai akhirnya, aku memutuskan untuk bicara duluan.

“Chogi.. kenapa kau tadi,, ada di sana? Maksudku, di kafe itu.. maksudku, kenapa harus,, kafe itu?” Kyuhyun terlihat mengerutkan keningnya ketika pertanyaan pertama, jadi aku terpaksa menjelaskan poin yang kumaksud.

“Kenapa? Kau merasa acara double date mu terganggu?” Kyuhyun melirikku dengan ekspresi yang sulit kuartikan. Aku mencoba menjelaskan kalau itu bukan date, tapi dia melanjutkan ucapannya. “Baiklah kalau kau bertanya. Aku sedang bersama temanku di sana, waktu Ibu menelepon ku untuk mengajakmu memilih cincin. Tadinya aku mau menjemput ke rumahmu, tapi ternyata kau ada di kafe itu.”

“Jadi, maksudmu, kau sudah ada di sana,, sejak lama, begitu?”

“Ya. tapi aku tidak menyadari keberadaanmu. Sungguh. Aku menengok ke arah meja mu karena merasa ada seseorang yang memperhatikanku. Begitulah.” Dia menghentikan mobilnya, sementara aku masih sulit untuk  percaya dengan penjelasannya tadi.

“Jadi, jangan terlalu percaya diri dengan mengiraku memasuki satu persatu kafe di seoul hanya untuk mencarimu.” Nada bicaranya dingin, tapi aku bisa melihat bibirnya sedikit tertarik. Senyuman mengejek, mungkin.

Kalau didengar-dengar sekarang, pertanyaanku tadi memang sedikit aneh, sih. Dia kan bebas mau datang ke kafe yang mana saja. Apa peduliku? Ya ampun, bodoh sekali aku bertanya seperti itu. Mungkin sekarang Kyuhyun menganggapku sebagai gadis yang delusional. Oh, tidak.

“Sekarang lebih baik kau lepas ini,,” Tiba-tiba dia meraih scarf ku, melepaskan ikatannya, dan mengambilnya dari leherku. Napasku otomatis tertahan karena posisi yang terlalu dekat. “Syal yang basah tidak enak dilihat. Lebih baik pakai yang ini. Hadiah untukmu.” Lalu dia memakaikan sebuah scarf lain yang diambilnya dari kotak kecil di dalam dashboard. Dia mengikat simpulnya, memperhatikan scarf di leherku sambil tersenyum, dan berkata “Cantik.”

Aku sedikit heran. Dia ini sebenarnya manis, tapi menyebalkan. Atau menyebalkan, tapi manis?

Setelah kami memilih cincin, Kyuhyun pun mengantarkanku pulang. Sebenarnya bukan kami, tapi Kyuhyun. Karena tadi dia yang lebih sibuk memilih cincinnya. Sesekali dia bertanya padaku mana yang aku suka, tapi yang terjadi selanjutnya adalah dia minta melihat cincin yang lain pada pegawai toko perhiasan tadi. Dan itu terjadi berulang-ulang sampai akhirnya dia menemukan cincin yang dia suka dan memilihnya tanpa bertanya dulu padaku. Atau mencobanya dulu di jariku. Menyebalkan, memang.

“Jadi, kau mau pulang? Atau kuantar ke tempat tadi untuk melanjutkan date mu yang tadi terganggu?”

“Sudah kubilang itu bukan.. arrg,, pulang saja.” Aku melipat tangan di dada dan menoleh ke luar jendela. “Tadi itu bukan date. Kita akan menikah, oke? Jadi mana mungkin aku punya date dengan orang lain.” Aku sebal dengan Kyuhyun yang ternyata masih berpikiran seperti itu setelah tadi aku membantunya—maksudku, menemaninya memilih cincin. Atau mungkin dia memang sengaja ingin aku berteriak sekeras-kerasnya bahwa kami akan menikah? Yang benar saja. Tadinya aku mau bilang kalau sebenarnya aku pun terpaksa menerima perjodohan ini karena ibuku dan sebenarnya aku sama sekali tidak menyukainya. Tapi kuurungkan, karena aku belum tahu persis orang macam apa Cho Kyuhyun ini. Bisa jadi dia akan sakit hati karena harga dirinya terluka, kemudian membuat hidupku terhenti di sini. Setidaknya aku masih menghargai nyawaku. Bukan berarti aku delusional, hanya waspada saja. Bagaimanapun, dia ini orang asing, kan?

Kyuhyun tersenyum. Hanya senyuman kecil. Keheningan pun bertahan sampai dia berhenti di depan rumahku dan membiarkanku turun dari mobil dengan perasaan kesal dan sedikit takut. Aku bahkan tidak menengok ke belakang setelah turun dari mobilnya. Baru setelah suara mobilnya terdengar samar, aku berhenti dan berbalik. Memperhatikan mobilnya yang sudah jauh. “Jaljayo, Kyuhyun-ssi.” Aku berbisik. Pada angin malam. Yang berhembus menggelitik dedaunan di atas pohon.  Ah, jika terus berada diluar sini, bisa-bisa aku menghasilkan sebuah puisi.

*~*~*

      “Gaun yang ini bagus, terlihat elegan dan manis. Kita coba yang ini ya.”

“Wah, yang satu ini bagus juga. Lihat renda-renda nya. Cantik sekali. Coba yang ini juga.”

Kalian mungkin bisa menebak di mana aku sekarang. Benar sekali. Aku berada di sebuah toko baju pengantin. Kemarin tiba-tiba ibunya Kyuhyun mengubah agenda. Seharusnya dua hari lagi itu acara pertunangan. Tapi dia ingin mempercepatnya menjadi pernikahan. Jadilah sekarang aku berakhir di sini.

“Tapi eonni, gaun yang ini, kurasa terlalu heboh. Kita cari saja yang lebih simple, agar cocok dengan tipe tubuh Jin Ri yang ramping.” Saran bibi Kyuhyun yang juga merupakan pemilik toko ini.

Aku memperhatikan Kyuhyun yang malah sibuk dengan ponselnya, tanpa peduli seberapa menderitanya aku berulang kali mencoba gaun pengantin. Dia ‘sih enak, sekali mencoba tuxedo langsung cocok. Sedangkan aku? Hah.

“Aissh, seharusnya aku mendesain sendiri baju pengantin untuk calon istri keponakan ku ini. Tapi kau bersikeras memakai gaun yang sudah jadi saja. Jadinya kita kerepotan untuk memilih mana yang paling bagus kan eonni..” Kata bibi Cho setengah menyerah dengan gaun-gaun di tangannya.

“Aigo kau ini. Kita tidak punya banyak waktu untuk melakukan itu. Lagi pula gaun-gaun ini sudah lebih dari bagus. Tinggal memilih mana yang cocok, praktis ‘kan. Bukan begitu Jin Ri-ah?” Nyonya Cho menatapku sambil tersenyum. Aku hanya membalas  senyumnya, tanpa bisa mengatakan bahwa sebenarnya aku sudah mulai muak mencoba gaun-gaun yang mereka pilihkan.

Setelah selesai dengan urusan gaun, Ibu mengantar kami kedepan toko. Dia menyuruh Kyuhyun mengajakku ke suatu tempat. Katanya agar bisa lebih akrab.

“Aku sudah janji akan bertemu dengan ibumu Jin Ri-ah, untuk mengurusi sisanya. Jadi kalian pergilah bersantai. Dan cepat mengakrabkan diri, ne?”

Begitulah yang dia katakan. Sekarang aku mengerti apa tujuannya menyuruhku cepat-cepat menyelesaikan masalah gaun pengantin dan buket bunga.

Kyuhyun mengemudikan mobilnya perlahan, menjauh dari toko baju pengantin.

“Jadi, kita kemana?” Tanya nya sambil membelokkan mobil keluar dari daerah pertokoan.

“Terserah.” Jawabku singkat. Sebenarnya aku masih sedikit kesal. Dan lagi aku tidak punya tempat yang ingin dituju.

“Kau marah.” Aku menoleh ke arahnya. Dia hanya tersenyum kecil lalu kembali melanjutkan. “Jangan diambil pusing. Aku tahu itu sangat melelahkan. Dan menurut buku yang kubaca, perempuan memang mudah mendapat stress sebelum hari pernikahannya. Itu wajar. Aku mengerti.”

Aku tersenyum kecut. “Ya, kau sangat mengerti.” Terlebih ini pernikahan yang diluar dugaanku, diluar keinginanku malah. Aku jadi punya alasan untuk membenarkan tempramen ku yang agak naik turun beberapa hari ini. Termasuk membentak Krystal karena dia mencercaku dengan berbagai pertanyaan, dan pada akhirnya malah menangis keras di pelukannya.

“Sebaiknya aku mengantarmu pulang saja. Kau terlihat sedikit pucat.” Kata Kyuhyun sambil mengalihkan mobil ke jalur lain. Aku sangat setuju dengan ide itu, aku memang sedikit lelah. Tapi kemudian aku teringat sesuatu.

“Bagaimana dengan Ibumu?“

“Tenang saja. Aku akan mengatakan kalau kita minum teh lalu berjalan-jalan sebentar di taman.”

Aku mengangguk setuju. Dan kemudian mengubah sedikit pandanganku tentang Kyuhyun. Ya, dia memang menyebalkan. Tapi sebenarnya dia juga baik. Hanya saja, kalau boleh bilang, dia ini sedikit terlalu jujur dan tidak berbasa-basi. Jadi terkadang kata-katanya diluar prediksiku.

Kyuhyun menghentikan mobilnya di depan rumahku. Aku memberinya salam dengan sedikit menunduk kemudian hendak membuka pintu mobil, namun kepalaku menoleh lagi menghadapnya yang menatapku heran ketika aku berkata dengan perlahan.

“Kau mau, mapir dulu sebentar dan yah, minum segelas teh?”

“Kau pintar membuat teh, Jin Ri-ssi.” Ujar Kyuhyun sambil tersenyum ketika mengembalikan cangkir teh ke atas meja. Aku hanya tersenyum kecil menaggapinya, menganggapnya aneh karena rasa teh buatanku biasa saja, seperti teh yang lainnya. Tidak ada yang spesial sebenarnya.

Kami duduk di teras belakang. Disini terdapat taman bunga kecil berukuran satu meter persegi. Karena aku juga memiliki hobi berkebun, jadi tidak ada salahnya memanfaatkan lahan sempit ini agar memberikan sedikit kesan indah untuk rumah ini di musim semi.

“Biasanya kau menanam apa di kebun ini?”

“Mawar. Selalu mawar setiap tahunnya.” Jawabku sambil memandang lurus kedepan, menabrak tembok pembatas yang berjarak sekitar lima meter di depanku.

“Bunga mawar terlihat indah. Tapi, kau tidak takut dengan durinya?” Pertanyaan Kyuhyun membuatku menoleh sebentar. Dan tersenyum kecil.

“Selalu ada pengorbanan, Kyuhyun-ssi. Kalau kau hanya ingin memiliki keindahan bunga mawar tanpa ingin terkena durinya, itu mustahil.”

Aku bisa merasakan kalau Kyuhyun sedang tersenyum. “Kau benar. Musim semi nanti aku akan mampir dan melihatnya bermekaran. Atau, kau mau aku membantumu menanamnya? Apa kita juga harus menanam anggrek disini?”

Aku kembali menoleh. “Anggrek itu bunga yang angkuh. Tidak cocok dipasangkan dengan bunga mawar yang sederhana.” Kyuhyun hanya mengangkat bahunya seolah mengatakan ‘kita bisa coba dulu.’ “dan, yah, tentu saja. kau bisa membantuku. Aku sangat senang jika ada tenaga tambahan.”

“Tapi bantuanku tidak gratis.”

“Oh, kau orang yang perhitungan rupanya.” Tentu saja, dia ‘kan pewaris perusahaan. Bisnis adalah bisnis untuknya.

“Tentu. Give and take, aku masih menganut prinsip itu.”

“Ya sudah, kupikir aku sendiri sudah lebih dari cukup untuk menanam mawar di kebun kecil ini.”

Dia menegakkan posisi duduknya. “Ah, maksudku, memang biasanya bantuanku tidak gratis. Tapi kali ini, khusus untukmu, aku akan melakukannya tanpa imbalan. Kau hanya perlu melakukan satu hal.”

Senyumanku menghilang mendengar kalimat yang terakhir. “Itu sama saja, Kyuhyun-ssi.”

“Tidak, tidak. Kau bisa melakukannya bahkan tanpa repot-repot membuang tenagamu.” Aku masih menatapnya dengan alis yang menaut. “Dan kau tidak akan kehilangan uang sepeserpun, kalau itu yang kau pikirkan.”

“Jadi, apa tepatnya yang harus kulakukan?”

Dia tersenyum penuh rahasia.

Iklan

4 thoughts on “The Psycho You [Part 1]

  1. seolri

    jarang bgt nemu ff cast nya jinri dan kyuhyun…pdahal suka bgt ma couple ini…dichap ini lum kliatan psyco nya ya…pnasran yg psyco kyuhyun ato spa…lanjut y thor…gomawo

  2. lazygirl13 Penulis Tulisan

    yess.. syukur deh kalo suka.. tadinya aku kira gak ada yang suka sama couple ini juga.. heehe…
    oke siap…. mudah-mudahan nanti malem bisa posting ch 2 aamiin

  3. hyurin

    Annyeong.
    Aku readers bru yg nyasar kesini..
    Hehehe**
    Cerita.a bagus trus kata2 yg dipakai jg enak dibaca..
    Suka sm jln cerita.a

    Keepwriting ^^

Gimmie ur comment ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s