A Lonely Life [APOV Gu Family Book] #1

Well, I’m coming back after taking ssoo long hiatus .__. I have a new project called ‘Another Point of View’. The stories contain the point of view of an imaginary character (a doesn’t exist char) inside a drama or a film. And this one was taken from a drama titled ‘Gu Family Book‘ Yeah, I didn’t guarantee anything but i hope you enjoy it *bow*

Aliran sungai yang tenang melintas di depanku. Airnya yang jernih memantulkan bayangan wajahku dan bulan purnama di atas kepalaku. Aku menikmati suara alirannya yang terdengar merdu di telingaku. Dengan mata terpejam, aku mengulurkan tangan, menyentuh air sungai yang terasa sangat dingin di bawah kulit tangan ku.

Aku masih menikmati dinginnya air sungai ketika tiba-tiba angin bertiup dengan kencang, seolah menampar pipiku keras-keras. Dengan mata yang terbelalak lebar, aku menatap ke puncak gunung, dimana taman surga berada, tempat dimana angin itu berasal. Angin masih mengibarkan rambut panjangku kesana kemari. Telingaku dipenuhi oleh suara ranting-ranting pohon yang saling bergesekan satu sama lain. Aku meremas dadaku. Jelas-jelas aku merasakan sesuatu yang aneh. Sesuatu yang buruk akan terjadi.

Aku menatap sekeliling. Alam yang semula tenang berada dalam satu harmoni, kini menjadi resah dan kacau. Entah sudah berapa abad lamanya aku tidak merasakan firasat buruk seperti ini. Sampai-sampai perutku mual dan dadaku sesak. Aku sedikit, ketakutan.

=~=~=

Sebuah langkah kaki terdengar mendekat. Aku membuka mata dan melihat Wol Ryung memasuki gua dan berbaring di atas ‘singgasananya’, dia menutup mata dengan kedua tangannya. Sudah beberapa hari ini aku tidak melihatnya di manapun. Aku sempat berpikir kalau dia sudah mati. Ternyata tidak, aku sangat menyesal. Tapi kali ini dia lebih pendiam. Aku tidak tahu kenapa, dan aku tidak mau tahu.

Sesekali dia menghela nafas berat dan mengumpat. Sudah jelas dia sedang dalam masalah. Oh, rupanya ada juga masalah yang bisa mengganggu kehidupan abadinya yang tenang dan tentram. Aku berdiri dari tempatku duduk dan menuju keluar dari gua.

 

“Kenapa manusia sangat tidak adil?” tanya Wol Ryung tiba-tiba. Membuat langkahku terhenti. Aku menoleh dan menatapnya bingung.

 

“Kautahu, kenapa manusia begitu jahat?” kali ini dia terduduk dan melihatku dengan matanya yang sembab. Ya ampun, bahkan dia menangis!

 

“Mungkin karena,,” aku berpikir sebentar. “mereka memang jahat?” itu satu-satunya alasan yang bisa aku pikirkan tentang pertanyaannya. “Kau sudah lupa? Mereka mamang jahat dan licik. Dan busuk.”

 

“Maksudku,” dia tampak kurang puas. “aku paham kenapa mereka seperti itu jika dilihat dari posisi kita—makhluk yang berbeda dengan mereka, tapi kepada sesama manusia? Apa itu masuk akal??”

 

Aku mengamatinya dengan teliti. Barang kali ada yang salah dengannya. Mungkin kepalanya terbentur atau apa. Pertanyaannya ini sangat tiba-tiba. “Terlahir sebagai makhluk yang sama tidak berarti kau akan berprilaku baik dengan sesamamu. Kau juga terkadang jahat padaku, ingat? Intinya, manusia memang seperti itu dan sudahlah, jangan terlalu mengurusi mereka.”

 

Dia bangkit dari duduknya, hendak memprotes apa yang kukatakan. Tapi aku memotong ucapannya. “Aku akan berburu sekarang. Kau tidak lapar? Kelinci-kelinci di luar sana sudah tumbuh besar.” Aku berbalik dan keluar dari gua dengan cepat.

 

“Aku lelah. Bawa pulang saja untukku!” Suara Wol Ryung di belakangku. Tsk, siapa dia sampai berani-berani menyuruhku??

 

“Aku tidak dengar!!!”

 

 

Kalian mungkin sudah tidak asing dengan si siluman penjaga gunung, Wol Ryung. Tapi denganku? Ah, kalian tidak akan tahu. Aku juga sama seperti Wol Ryung, siluman penjaga gunung. Hanya bedanya, aku ini siluman wanita—istilah yang sering kalian pakai. Aku sudah ada di gunung ini sejak lama sekali, sama seperti Wol Ryung. Meskipun kami tinggal di tempat yang sama, dengan tugas yang sama, dan dari ‘jenis’ yang sama, bukan berarti kami kakak beradik atau apa. Aku bahkan sangsi apakah aku memiliki ibu seperti manusia-manusia itu atau tidak. Ingatanku tumpang tindih, tidak jelas, mungkin itu karena aku sudah hidup berabad-abad lamanya. Dan mungkin, karena tidak ada seusatu yang penting untuk diingat.

Kami melindungi gunung ini seperti melindungi nyawa kami sendiri—yah, anggap saja kami bukan makhluk abadi yang tidak perlu khawatir tentang nyawa kami. Gunung ini sepertinya sudah menyatu dengan kami—alam ini menyatu dengan kami. Sehingga apapun itu yang dirasakan oleh alam, kami dapat merasakannya juga. Kalian mungkin sudahtahu banyak, jadi tidak perlu aku jelaskan lebih jauh. Rumor menyebar dengan sangat cepat. Tapi mereka salah. Bukan hanya ada satu siluman di gunung ini. Melainkan dua. Maka dari itu, jangan terlalu mempercayai rumor.

Aku dan Wol Ryung, menjalani kehidupan kami sendiri-sendiri. Jika kalian beranggapan kami seperti keluarga yang akrab, kalian salah. Kami sering berkelahi gara-gara sesuatu yang kecil. Bahkan terakhir kali, seingatku, kami bertarung habis-habisan sampai hampir saling memutuskan urat leher. Namun karena kemampuan penyembuhan diri yang luar biasa, kami masih ada di dunia sampai hari ini—tapi tetap saja, kami bisa merasakan sakit. Percakapan ku barusan dengan Wol Ryung, jarang sekali terjadi. Dalam waktu ribuan tahun, bisa dihitung dengan jari. Kami jarang bersama-sama. Sudah kubilang, kami menjalankan hidup kami masing-masing. Tapi jangan berpikir kalau aku merasa kesepian seperti Wol Ryung itu! Dia memang jenis siluman yang melankolis. Aku menikmati kehidupanku di gunung ini. Karena aku bisa merasakan banyak kehidupan didalamnya. Itulah kenapa manusia dilarang keras memasuki gunung ini. Karena mereka ahlinya membuat kerusakan!

Ah! Tidak!. Kawanan kelinci itu melarikan diri. Ya ampun, kali ini akan membutuhkan waktu yang lama.

 

=~=~=

 

Beberapa hari setelah Wol Ryung menanyakan pertanyaan aneh itu, aku dikejutkan dengan sesosok manusia di taman surga. Seorang wanita muda. Saat itu aku baru kembali setelah beberapa hari berburu di hutan. Ketika masuk ke dalam gua, aku merasa terancam dengan adanya seorang manusia yang sedang berbaring di atas batu milik Wol Ryung. Aku panik kemudian melepaskan kekuatanku. Rambut coklat kemerahan milikku berubah menjadi lebih terang dan iris mataku yang semula coklat bersih menjadi biru tua yang mengkilap. Hampir saja aku menerkamnya jika Wol Ryung tidak menahanku dan melemparku ke dinding gua dengan sangat keras. Dia menerjangku dan menahanku di dinding. Punggungku berdenyut kesakitan karena tusukan batu-batu runcing di dinding gua. Aku bisa merasakan punggungku basah, sepertinya punggungku sudah berlumuran darah sekarang ini. Dia telah berubah sepenuhnya, dan sekarang kuku-kuku jarinya yang tajam menggores leherku yang dia cengkram dengan kuat.

Matanya berkilat. Aku tidak mau kalah. Insting ku memerintahkan untuk melawan. Sekuat tenaga aku mendorongnya, berusaha lepas dari cengkraman tangannya di leherku. Berhasil. Dia terpental jauh ke belakang. Aku terbatuk sambil berpegangan ke dinding gua.

 

“Kau gila?? Hah??! Apa yang baru saja kau lakukan bodoh?!” teriakku setelah berhasil menguasai diriku lagi. Aku menatapnya tajam. Dia sudah menahan kekuatannya lagi dan kembali seperti semula. Aku pun perlahan-lahan berubah.

 

“Kau yang gila! Jika aku tidak menghentikanmu tadi, dia akan berakhir di perut rakusmu itu.” Wol Ryung menatapku sengit.

 

Aku memutar bola mataku. “Apa menurutmu aku tidak punya alasan untuk itu? Hey! Dia itu manusia! Kenapa dia ada disini?? Kautahu kan akan seperti apa jadinya kalau mereka tahu makhluk seperti kita benar-benar ada? Kita akan terancam, Wol Ryung!” Aku berjalan mendekatinya dan menatapnya sinis.

 

Kali ini wajahnya melunak. “Aku yang membawanya. Dia sedang kesulitan dan membutuhkan pert—“ Suara rendahnya terpotong oleh ocehan marahku.

 

“Apapun itu! Dia manusia dan itulah faktanya!” Aku berteriak di depan wajahnya. Rahangnya mengeras dan dengan cepat dia mencengkram tanganku dan menyeretku keluar dari gua. Sekilas mataku melirik manusia itu. Aku hanya, merasa takut.

 

“Chae, aku mohon pengecualianmu kali ini. Dia manusia yang baik. Dia sedang ada dalam masalah besar dan tidak punya tempat untuk kembali. Dia lemah, tidak mungkin bisa berbuat macam-macam dengan kita. Jika dibandingkan denganmu, dia itu tidak lebih dari sehelai bulu. Aku mohon.. biarkan aku merawatnya di sini.” Wol Ryung memegang bahu ku. Mata tegasnya memelas belas kasihan. Monster kejam seperti dia, aku masih tidak percaya dia bisa berlaku seperti ini. Kali ini dia bahkan menyebut namaku. Setelah berabad-abad dia hanya memanggilku dengan Hey, Kau, Siluman Betina, dan apalah itu.

 

Aku terdiam. Entah apa yang membuat Wol Ryung menjadi seperti ini. Lemah. Dia bahkan memohon kepadaku. Maksudku, benar-benar memohon. Tapi itu tidak akan mengubah apapun. “Ya, dan sekarang kita yang ada dalam masalah. Bisa jadi dia lemah. Tapi itu karena dia sendirian sekarang. Jika dia memanggil semua orang di luar sana, kau masih berani menyepelekannya? Aku harus segera menghabisinya selagi ada kesempatan. Wol Ryung, jangan haling-halangi aku!” Aku mendorongnya menjauh. Tapi dia bisa menahanku lagi dengan mudah.

 

“Ayolah Chae.. hilangkan sedikit kebencianmu itu pada manusia. Kekuatan kita tidak bisa dibandingkan dengan manusia manapun di bumi ini. Hanya kali ini saja.” Dia terus mengoceh ini dan itu, tapi intinya sama. Aku mengusap punggungku dengan tangan. Ada banyak darah dan lukanya masih terbuka. Aku berkonsentrasi untuk menutup lukanya. Dan yah, bajuku sobek di sana-sini.

 

“Wol Ryung, aku tidak mengerti kenapa kau jadi lemah seperti ini di depan manusia, tapi, demi apapun, Wol Ryung, aku tidak akan membiarkan wanita itu berlama-lama ada di sini. Aku mendapat firasat buruk semalam. Seluruh penghuni gunung ini resah. Angin bertiup dengan sangat kencang. Apa artinya itu kalu bukan bencana besar yang menanti? Dan hari ini aku tahu apa penyebabnya. Manusia di dalam sana.”

 

Wol Ryung menghela napas. Dia kelihatan bingung. Aku yakin, dia juga pasti merasakannya. “Ya, aku tahu, aku mengerti. Tapi aku yakin, kita masih bisa mencegahnya. Selama dia tidak tahu kita ini siluman, kurasa semuanya akan baik-baik saja. Chae, aku mohon. Kali ini saja. Kau tidak tahu seperti apa penderitaan yang dialami gadis ini.”

 

“Ya, aku tidak tahu dan aku tidak mau tahu.” Wol Ryung menatapku. Dan demi apapun, aku belum pernah melihat tatapannya yang seperti ini setelah tinggal beribu-ribu tahun dengannya.

 

Aku berkata dengan suara lemah sambil berjalan menjauh darinya. “Asalkan kau bisa menjamin dia tidak tahu..” Aku menggantung kalimatku. Aku masih menimbang-nimbang apakah keputusanku ini tepat.

 

“Lalu?” Dia mengikutiku di belakang.

 

“pastikan dia benar-benar tidak tahu!” aku berbalik dan mendapatinya mengangguk dengan yakin. “aku setuju. Dengan catatan, jika suatu saat nanti dia tahu yang sebenarnya dan mengkhianati kita, aku akan mencabik-cabik dagingnya dengan tanganku sendiri.”

 

“Kau bisa memegang janjiku.” Dia menepuk-nepuk bahuku. Aku menunjuk gua dengan dagu ku. Mengisyaratkannya untuk pergi. Dia tersenyum kecil, tanda berterimakasih.

 

Yah, mau bagaimana lagi. Aku tidak mau mendapat mimpi buruk karena wajah memelasnya itu yang menurutku lebih menyeramkan dari apapun. Aku pun keluar dari taman surga. Belum habis kekesalanku pada Wol Ryung, aku bertemu dengan pendeta tua sok tahu itu.

 

“Chae! Lama tidak bertemu!” Katanya begitu sudah berada di depanku. Aku hanya menyeringai kecil. Orang tua ini, mungkin kalian sudah tahu tentangnya. Dia—dan seluruh keturunannya—bertugas mengawasi kami, para siluman penjaga gunung dari terkena bahaya, atau menyebabkan bahaya. Aku tidak merasa perlu untuk mejelaskan betapa menyebalkannya dia.

 

“Aku tahu kau tidak pernah ramah, tapi kenapa sekarang kau cemberut seperti itu? Gadis cantik sepertimu jangan sering-sering menekuk wajah seperti itu.” Pendeta tua itu tertawa.

 

“Diam pak tua. Tertawa mu membuat kepalaku sakit.” Dan aku tidak bohong. Kepalaku berdenyut sakit.

 

“Haha.. seharusnya kau tidak mengataiku tua ketika dirimu sendiri lebih tua dari apapun di muka bumi ini.” Dia terdiam sebentar kemudian bicara lagi. “Ah, sepertinya kau sudah melihat gadis itu ya..”

 

Aku, yang tadinya sibuk memperhatikan luka-luka dipunggungku, beralih menatap pendeta ini. Dia duduk di atas batu besar di sampingku. Benar, dia sering mengikuti Wol Ryung. Pasti dia tahu mengenai manusia tadi.

 

“Aku yakin kau akan sangat marah jika tahu Wol Ryung membawa seorang manusia ke sini. Aku yakin salah satu dari kalian akan terluka parah jika berkelahi lagi. Maka dari itu aku segera kesini. Tadi aku sangat lega melihatmu baik-baik saja, tetap cantik.”

 

“Baik-baik apanya? Kau lihat ini???” Aku memutar punggungku agar dia bisa melihat yang dia sebut baik-baik saja. Luka nya sudah tertutup sempurna. Menyisakan bajuku yang sobek di sana-sini dan berlumuran darah.

 

Dia memperhatikannya sebentar. “Wah.. kau memang siluman wanita yang bertubuh manusia ya..” Dia tertawa. Aku melotot ke arahnya. Dasar pendeta mesum!

 

“Pendeta tua, kau tahu kalau Wol Ryung membawa seorang manusia ke sini, tapi kenapa kau tidak mencegahnya?? Kau melupakan tugasmu, hah?”

 

“Dengar, Chae. Aku sudah menyuruhnya untuk tidak mencampuri urusan gadis itu ketika dia terus menerus mengamati gadis itu beberapa hari kebelakang. Dan aku sudah mengancamnya dengan berbagai cara. Dan dia menurut. Tapi semalam, ketika aku mendatanginya ke gua, sudah ada gadis itu di sana.” Wajahnya berubah serius.

 

“Semalam aku mendapat firasat buruk.” Dia menatapku kaget. “Aku tidak pernah merasa setakut itu selama ribuan tahun. Dan aku bisa merasakan semua mahkluk hidup di sini resah.”

 

“Ya. memang instingmu lebih tajam dari Wol Ryung. Dan harus kuakui kau lebih pintar darinya.”

 

“Benar! Dia itu sangat bodoh. Kenapa juga dia harus membawa seorang manusia kesini. Selemah atau semenderita apapun dia, tetap saja namanya manusia.” Rasa kesalku kembali muncul. Aku bisa merasakan iris mataku berubah warna lagi.

 

Dia menghela napas beratnya. “Menurutmu, kenapa dia membawanya kesini? Tidak mungkin hanya kebetulan. Dia tidak begitu bodoh untuk membawa seorang manusia ke taman surga.”

 

Aku mengangkat bahu. “Mungkin memang dia lebih bodoh dari yang kau kira?” Aku duduk di atas sebuah batu disamping pendeta itu. Rasa lelah dan lapar mulai menyerangku. Aku berusaha untuk tidak melihat seonggok daging di samping kananku—maksudku, pendeta tua itu. Aku takut jika tiba-tiba aku menerkamnya atau bagaimana. Jika itu terjadi, pasti tuhan akan mengutukku.

 

“Itu karena dia telah jatuh cinta.” Aku menengok ke arahnya dengan cepat. Dia balas melihatku. “Wol Ryung mencintai gadis manusia itu. Kau lihat saja, dia sangat cantik. Rambutnya hitam legam, kulitnya seputih susu, dan bibirnya merekah seperti bunga yang sedang bermekaran. Akh,,, pantas saja Wol Ryung bisa jatuh cinta.”

 

Aku memiringkan kepalaku. Cinta? Apa itu? Sepertinya aku sudah pernah dengar istilah itu. Apakah semacam,, menakut-nakuti? Aku tidak yakin, tapi… Aku terbahak. “Tidak mungkin, tidak mungkin. Kau pasti salah.” Stt,, aku hanya berpura-pura mengerti tentang apa yang dia maksud. Dia bisa menertawaiku habis-habisan jika aku tidak tahu arti istilah itu.

 

“Mungkin kau benar. Dan aku harap juga seperti itu. Aku tidak bisa membayangkan kekacauan apa yang akan terjadi jika manusia dan siluman saling mencintai.” Maksudnya,, cinta itu menyebabkan kekacauan?

 

Dia melanjutkan bicaranya. “Tapi sungguh, demi apapun, aku bisa melihat perasaan itu dari matanya. Dan aku tidak melihat ada sesuatu yang bisa kulakukan untuk mencegah hal itu terjadi.”

 

Entahlah. Aku masih tidak mengerti benar apa yang sedang dia bicarakan. “Terserahlah, aku yakin kau bisa diandalkan untuk mencegah kekacauan yang kau maksud seandainya yang kau bicarakan itu benar. Aku pergi dulu.”

 

“Kau mau kemana??” DIa menatapku bingung.

 

“Ke desa. Aku butuh beberapa helai kain baru, punggungku butuh penutup.”

 

“Apa?? Kau gila? Kau mau menarik seluruh perhatian orang desa dengan punggungmu yang terbuka itu???”

 

“Tenang saja. Aku punya cara pintar untuk mengatasinya. Aku bukan siluman yang bodoh. Kau sendiri yang bilang.”

 

“Baiklah aku izinkan. Tapi awas saja kalau kau berakhir di tiang gantungan di tengah-tengah pasar!”

 

“Ngomong-ngomong, aku tidak meminta izin darimu pendeta tua!”

 

=~=~=

 

Angin sepoi-sepoi menerpa wajahku, menimbulkan rasa dingin di kedua pipiku. Aku biarkan rambutku dimainkan oleh angin sementara tatapan mataku jatuh ke bawah sana. Di atas tebing yang tinggi ini, aku duduk terdiam dengan kaki menjulur kebawah. Sepi. Disana hanya ada angin yang bertiup memainkan dedaunan di ranting-ranting pohon yang tinggi. Kawanan kelinci itu lebih memilih diam di bawah tanah, dan ikan-ikan bersembunyi jauh di dasar sungai. Aku mengalihkan pandanganku lebih ke sebelah utara. Tempat perkampungan manusia. Memang tidak terlihat apapun. Dan tidak terdengar apapun. Tapi bukan berarti disana juga sepi. Mungkin disana bisa dibilang , tentram.

Memiliki kekuatan yang paling kuat juga tidak ada gunanya. Toh, aku sendirian. Tidak ada yang peduli apakah aku memiliki kekuatan atau pun tidak. Sementara manusia-manusia lemah itu, mereka bersatu untuk menjadi lebih kuat. Mereka saling mengandalkan dan menjalankan tugas masing-masing. Adanya yang lemah membuat yang lain terlihat lebih kuat.

Mereka berjalan dengan dada yang dibusungkan, merasa bangga dengan kekuatan yang mereka miliki. Sombong. Mereka hanya tidak tahu bahwa ada kekuatan lain yang lebih kuat dari apa yang mereka miliki. Tapi mereka mengabaikannya dan tidak mau mengakuinya. Menganggap diri mereka maha suci. Mereka itu licik. Dan aku hanya bisa memperhatikannya dengan geram selama ini.

Tapi sekarang aku merasa iri. Setidaknya ada yang membutuhkan mereka. Entah untuk tujuan yang jahat atau baik, kekuatan mereka diakui oleh banyak orang. Dipuji dan diagungkan. Sementara kekuatanku yang jauh di atas mereka, hanya membuat mereka takut dan ingin melenyapkanku—kaumku.

Apa mungkin mereka tidak seburuk yang kukira? Buktinya, Wol Ryung betah berlama-lama dengan gadis manusia itu. Dia bisa bertahan berada di dekat manusia itu sangat lama. Tidak seperti denganku. Dia pasti yang lebih dulu mencari-cari masalah dan akhirnya kami berkelahi lagi. Huh, aku bosan selalu seperti itu.

Lamunanku buyar dengan suara sekumpulan kelinci yang berlarian dengan takut dan burung-burung yang terbang tidak karuan. Aku melihat ke sebelah selatan dan mendapati sekelompok pemburu (atau mungkin perampok) membidikkan panahnya ke arah burung-burung dan kelinci. Aku melompat turun dan dengan cepat berada di hadapan mereka.

Ekspresi kaget, heran, dan geli mereka tunjukkan begitu melihatku. Mereka menghinaku, dan aku tidak terima. Aku menjatuhkan seorang dari mereka dengan menendang kaki dan mematahkan tangannya kemudian melemparnya ke sembarang arah.

“Hoi nona! Apa yang baru saja kau lakukan, hah?!” orang-rang bertubuh besar, berwajah menyeramkan dan berpakaian lusuh itu mulai marah dan mengepungku dari segala arah.

Aku menegakkan posisi berdiriku dan menyingkirkan sebagian rambutku yang menutupi wajah. “Aku tidak berniat membagi jatah makanku dengan siapapun. Sekarang pilihlah. Pergi dari sini hidup-hidup, atau gunung ini akan menjadi tempat terakhir yang kalian datangi.”

Mereka tertawa, kemudian salah seorang dari mereka melepaskan anak panahnya. Panah itu menggores lengan atasku dan menyayat tipis dagingnya. Ahk, tidak lagi! Baju baruku sudah sobek lagi padahal baru beberapa hari aku membelinya.  Aku marah, dan menatap mereka satu persatu. Dan baru terlintas dalam pikiranku.

Kekuatanku sama sekali tidak sia-sia. Tentu saja ada yang membutuhkan kekuatanku. Gunung ini tentunya. Dia tidak akan membanjiriku dengan pujian, aku tahu. Tapi rasa terimakasihnya bisa kurasakan melalui udara nya yang ku hirup dan air nya yang ku minum. Ya ampun, sebenarnya apa yang tadi ku pikirkan!

Ada di tempat yang sepi bukan berarti kesepian, kan.

Iklan

Gimmie ur comment ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s