Smile, with the sinking sun

jadi

Maaf agak sedikit terlambat dari waktu yang diperkirakan(?). Emang, cerita yang A little truth itu enaknya dibikin happy ending. Dan saya juga mau bikin gitu. Nah, mungkin karna saya gak terlalu berbakat dan gak terbiasa bikin cerita dengan happy ending, jadi agak susah juga nih nulisnya. Jadi maaf ya kalo gak sesuai harapan dan terkesan maksa banget. Saya udah berusaha sekuat tenaga bikin happy ending di sini xD okeyy,, langsung aja ya,, final dari A little truth…[Jiyeon’s side, Jieun’s side, Myungsoo’s side]

School gates [Jiyeon]

Hari sudah sangat sore dan gerbang sekolah pun sudah dikunci. Jiyeon melangkah dengan perasaan sedikit kesal setelah barusan dipaksa keluar dari perpustakaan karena sekolah akan segera ditutup. Dia diam di perpustakaan sejak pulang sekolah dan tanpa sadar berada di sana berjam-jam. Alasannya selain karena dia malas pulang ke rumah, tapi juga karena dia menunggu orang itu, Kim Myungsoo yang kemarin bilang akan mengembalikan buku miliknya hari ini.
Dari jam pertama sampai sekolah berakhir tanpa dia sadari sebenarnya dia mengharapkan orang itu. Tapi ternyata tidak, Myungsoo tidak datang ke kelasnya untuk mengembalikan buku seperti yang dia bilang kemarin. Jiyeon kecewa, dan sedikit kesal karena dia terlalu berharap banyak. Tapi bukannya marah pada Myungsoo, dia malah semakin berharap Myungsoo akan datang. Maka dari itu dia sengaja memperlama keberadaannya di sekolah. Dengan harapan Myungsoo akan menemukannya. Dan sekali lagi, tidak. Dia tidak melihat Myungsoo sama sekali hari ini.

Jiyeon mendengus kasar entah untuk yang keberapa kalinya. Dia kesal, bukan karena tidak mendapatkan bukunya, tapi karna hari ini dia tidak melihat Myungsoo. Jangan salahkan dia kalau ternyata sekarang melihat sosok laki-laki itu merupakan sebuah kebutuhan baru untuknya.
Dia menendang kaleng yang ada di depannya dengan keras ke sembarang arah. Berharap kekesalannya bisa pergi bersama kaleng itu. Tapi kemudian dia mendengar sebuah suara.

“aw, kau ini kenapa, huh?”

Mendengar suara berat yang terkesan dingin itu, Jiyeon menoleh dengan menaruh harapan besar. Matanya membulat ketika melihat orang yang tengah bersandar di dinding gerbang sekolah dan perlahan menurunkan kaki kanan nya yang terangkat.. Dia mengerjap beberapa kali. Memastikan itu bukan hayalannya saja atau apa.

 

School gates [Myungsoo]

Ketika hari semakin sore, Myungsoo tetap berdiri di tempatnya. Tempatnya menunggu seseorang sejak berjam-jam yang lalu. Dia memang pegal dan sedikit bosan. Tapi dia tidak akan menyerah. Dia akan tetap menunggunya di sana, menunggu Jiyeon. Iya, dia sedang menunggu Jiyeon. Seperti janjinya kemarin, dia akan mengembalikan bukunya hari ini. Khawatir kejadian seperti kemarin akan terjadi lagi, dia pun memutuskan untuk tidak datang ke kelas Jiyeon. Pulang sekolah sepertinya waktu yang bagus. Apalagi jika kebetulan bisa mengajaknya pulang bersama atau apa, pikir Myungsoo dengan sedikit senyuman di wajahnya. Bukan senyuman dingin atau senyum mengejek yang biasa dia perlihatkan. Tapi sebuah senyuman hangat yang menenangkan.
Dia sudah berada di sini semenjak sekolah baru berakhir dan dia sama sekali belum melihat sosok itu. Sosok yang selalu dapat ditemukannya dengan mudah meskipun di tengah-tengah keramaian. Seolah ada magnet yang menarik matanya untuk menatap ke arah gadis itu. Rambut kemerahannya, ekspresi datarnya, langkah tergesa nya, dia sudah hafal dan sudah terbiasa.
Seharian ini Myungsoo menahan diri untuk tidak datang ke kelas Jiyeon. Dia dengan sabar melewati jam-jam pelajaran (bahkan tadi dia nyaris mencatat semua yang diterangkan guru, hal yang paling jarang dia lakukan) menunggu jam pulang dan dengan cepat melesat ke gerbang sekolah. Mengabaikan suara-suara yang menyapanya, mengajaknya mengerjakan tugas bersama atau sebagainya. Dia hanya berkata ‘maaf, mungkin besok.’ Dengan sekenanya dan tanpa melihat siapa orang yang mengajaknya bicara.

Dia bersandar ke tembok dan mengangkat kaki kanannya yang mulai pegal. Jiyeon sangat lama. Dia melirik jam tangan di tangan kirinya. Sekolah mungkin akan sudah ditutup. Apa Jiyeon masih di sana? Tadi bisa saja dia menyusul ke dalam dan memastikan apakah Jiyeon masih di sana. Tapi dia tidak ingin mengganggu apa yang sedang Jiyeon lakukan. Mungkin Jiyeon sedang mengerjakan tugas. Itu tebakannya.
Tidak mungkin, kan dia kehilangan sosoknya saat menunggu di sini tadi? dia sangat yakin dengan keahliannya yang satu ini; menemukan Jiyeon. Dia nyaris akan menyerah ketika dia melihat sosok itu berjalan mendekat dengan wajah yang menunduk. Baru saja Myungsoo akan memanggilnya, Jiyeon malah menendang kaleng bekas soft drink yang ada di depannya dan entah kenapa tepat mengenai kepala Myungsoo.
Myungsoo mengaduh dan menanyakan apa yang dilakukan Jiyeon. Lalu Jiyeon menoleh dan Myungsoo lihat matanya sedikit membesar ketika mendapatinya sedang bersandar ke dinding. Myungsoo menurunkan kaki kananya dan sedikit menarik sudut bibirnya. Menahan rasa senang yang menyerbunya saat ini. dia lihat Jiyeon mengerjap beberapa kali dan itu membuat Myungsoo sedikit heran. Apa artinya kerjapan mata itu? Dia tidak senang melihatku disini sekarang? Atau dia terlampau senang karna melihatku disini? Alu harap kemungkinan kedua benar.
Memberanikan dirinya, Myungsoo maju selangkah. “kau mau pulang?”

Jiyeon mengangguk dan berkata dengan suara kecil karna tenggorokannya sedikit terekat. “ya, sunbae-nim” Dia menatap Myungsoo dengan sedikit takut-takut. Takut bahwa itu hanya sebuah fatamorgana dan akan menghilang dengan sekejap.

“m..mau berjalan bersama sampai halte?” Tanya nya ragu-ragu lalu menunggu jawaban Jiyeon dengan sedikit khawatir. Bagaimana jika Jiyeon bilang tidak? Dan bagaimana jika dia bilang iya? Bagaimana dia harus bersikap sepanjang jalan menuju halte nanti?

Jiyeon menggigit bibir bawahnya. Dia bukannya kesulitan menentukan jawaban untuk pertanyaan Myungsoo tadi. tapi kesulitan menahan rasa senangnya dan keinginannya untuk tersenyum. “tentu saja sunbae, itu akan terasa lebih baik.” Dan senyuman itu pun mendesak keluar begitu saja. Membuat Myungsoo sedikit tertegun sebelum akhirnya ikut tersenyum kecil dan menggaruk kepalanya pelan.

 

 

 

Kebanyakan keheningan yang menemani mereka. Hanya sesekali mereka bicara satu sama lain. Itu pun hanya menjawab pertanyaan bodoh yang terpaksa mereka lontarkan karna tidak tau harus bicara apa. Sampai akhirnya Jiyeon teringat sesuatu dan dengan memberanikan diri mengeluarkan suaranya.

“ngomong-ngomong,, sejak kapan sunbae berada di sana tadi? kenapa sudah sesore ini belum pulang juga?”

Myungsoo sedikit meringis. Tidak menyangka Jiyeon akan menanyakan hal itu. “mm..menunggu mu.” Jawabnya dengan cepat dan mengalihkan pandngannya ke arah lain. Jiyeon sedikit tersentak dan kemudian tersenyum. Dia tau bahwa Myungsoo orang yang kaku, tapi dia tidak membayangkan akan selucu ini jika Myungsoo memaksakan dirinya untuk menjadi lebih fleksibel.

“kau sendiri? Kenapa masih ada di dalam sana sampai sesore ini?” Kali ini Myungsoo melirik Jiyeon.

Jiyeon menggembungkan pipinya, lucu, dan itu hampir saja membuat Myungsoo menghentikan langkahnya. “sunbae meniru pertanyaanku?”

Myungsoo tertawa kecil. “ternyata kau tidak sekaku yang aku pikirkan, Jiyeon-ssi.”

“mm.. bukannya sunbae sendiri yang kaku?” Jiyeon melayangkan pandangan herannya, menggoda Myungsoo.

Myungsoo tertawa “ya,, terkadang, memang. Jadi? Kenapa tidak menjawabku? Kenapa berada di sekolah sampai sesore ini?” Kalimat terpanjang yang didengar Jiyeon dari mulut Myungsoo.

“sama. Menunggu,, sunbae.” Dia menunduk, memperhatikan langkah kakinya, menyembunyikan wajahnya yang memanas.

‘jadi kita saling menunggu satu sama lain?’ pikir Myungsoo. Tapi dia tidak mengatakannya. Sudah cukup dengan melihat semburat merah di wajah Jiyeon.

 

 

 

Dari kejauhan, seseorang memperhatikan mereka dengan napas yang tertahan. Matanya tidak berkedip, memperhatikan bagaimana senyum itu terukir dengan indahnya di wajah Myungsoo. Jieun, dia menahan air matanya ketika Myungsoo tertawa bersama Jiyeon. Dia tau akan sperti ini. sekarang atau pun nanti, mereka pasti akan saling menemukan satu sama lain.
Dia terus memperhatika mereka berdua sampai akhirnya menghilang di belokan jalan.

“jadi bagaimana? Kau sudah lihat sendiri, kan? Apa sekarang kau mau pulang? Ini sudah sangat sore..” Wooyoung, yang bersandar di sebuah pohon dekat dengan tempat Jieun berdiri menyadarkan Jieun dari lamunannya. Jieun berbalik dan menghampiri Wooyoung.

“Wooyoung-ssi, bagaimana selama ini kau bisa bertahan?”

“hmm? Maksudmu?”

Jieun berjongkok dan ikut bersandar ke pohon. “bagaimana bisa selama ini kau masih bisa menyukaiku meskipun aku menyukai orang lain dan kau tau itu? Sedangkan aku sendiri, baru mengetahui Myungsoo sunbae menyukai Jiyeon saja rasanya sudah ingin menyerah. Kenapa kau bisa bertahan selama ini?”

Wooyoung tersenyum kecil. “mudah saja, Jieun. Itulah bedanya suka dan kagum. Jika kau memang benar-benar menyukai orang itu, sepahit apapun kenyataan yang harus kau hadapi, kau akan menerimanya asalkan kau masih bisa menyukai orang itu. Sedangkan jika kau hanya kagum, sekali saja dia berlaku tidak sesuai dengan harapanmu, kau akan langsung kecewa dan mundur. Lebih seperti obsesi.”

Jieun terdiam. Benarkah? Dia melirik Wooyoung sekilas. Itu artinya Wooyoung sangat menyukainya. Benarkah? Bahwa dia hanya sebatas mengagumi Myungsoo? Tapi tunggu, kata-kata Wooyoung itu tidak tentu benar, kan?

“kau tidak percaya?” Wooyoung memasang wajah imutnya.

Jieun terdiam sesaat. Dia pikir Wooyoung benar. Pada awalnya dia hanya kagum pada Myungsoo, lalu setelah tau bahwa Jiyeon menyukainya, dia merasa bahwa dial ah yang terlebih dulu mengenal Myungsoo. Maka dari itu selama ini dia terus menerus meyakinkan dirinya bahwa yang disukai Myungsoo adalah dirinya. Dan perlahan-lahan menenggelamkan kebenaran bahwa Myungsoo tidak melihatnya.

Wooyoung menghela napasnya, “baiklah, jika kau tidak percaya dan akan—“

“aku percaya.” Jieun tersenyum geli melihat wajah terkejut Wooyoung. “aku sadar selama ini aku hanya terobsesi dengan Myungsoo sunbae-nim, terima kasih sudah menyadarkanku.”

Wooyoung tersenyum manis. Dia tau jika dia bersabar sedikit lebih lama saja, maka semuanya akan berakhir seperti ini.

 

 

 

“ah, sepertinya bus ku sudah datang, sunbae” Jiyeon berjalan menuju bus yang berhenti agak jauh di depan mereka. Setelah sampai di halte, mereka menunggu beberapa saat. Selama menunggu, Myungsoo mencoba melontarkan beberapa lelucon. Meskipun beberapa terkesan tidak lucu, tapi tetap saja Jiyeon tertawa mendengarnya. Tentu saja bukan karna leluconnya, tapi karna bagaimana cara Myungsoo bercerita. Dan Myungsoo senang, setidaknya Jiyeon tidak mencela nya mentah-mentah.

Ketika sampai di pintu bus yang sudah terbuka, Jiyeon kembali berbalik. “aku pulang duluan ya, sunbae.” Dia mengangguk sedikit dengan perlahan, menunggu Myungsoo mengatakan sesatu.

“baik. Sampai jumpa besok.” Kata Myungsoo pelan, setelah membalas anggukan Jiyeon. Jiyeon tersenyum setelah mendapatkan apa yang dia mau, lalu berjalan masuk ke dalam bus.

Myungsoo memperhatikan bus itu sampai tidak terlihat lagi oleh matanya. Dia tersenyum sekali lagi. Ternyata tidak seburuk yang dia pikirkan. Jiyeon dengan mudah menempatkan dirinya dengan baik. Dan itu membuat Myungsoo tidak terlalu kesulitan. Tapi tiba-tiba dia teringat sesuatu. Ah,, buku nya. Dia tidak mengembalikannya—lagi. Yah, apa boleh buat, besok saja dikembalikan. Mungkin bisa jadi alasan untuk bertemu Jiyeon lagi.

 

 

Dan mereka pun tersenyum,

Seiring dengan kembalinya matahari ke peraduannya.

Iklan

6 thoughts on “Smile, with the sinking sun

  1. talithaJiyeonClouds

    hahahah so sweet… Cuma pengennya mereka jadian dulu tapi sigini aja ak udh cukup senang.. Kekekek
    kalau authornya mau nambah part lagi boleh tapi ak gg maksa yaa.. Ditunggu ff jiyeon lainnya thor 🙂

  2. lazygirl13 Penulis Tulisan

    author gabisa nyeritain pas myungsoo nya nembaakk :3
    jadi diakhiri dg bijaksana, hehhe xD
    nambah part ya,,,, itampung dulu deh, soalnya belum kepikiran lagi. hehe..
    iya ditunggu aja ff jiyeonnya^^

Gimmie ur comment ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s