[S7T] Chapter 1 : We decide it with no easy

I’m sorry for being so late to post this story. Hmm, i think i made this story around two years ago but i posted it just now :’D haha, it was very long time, right… i just don’t have any confident to post it but then i think i can’t help myself for not posting this story. And i can’t keep it any longer in my PC, so,, here it comes 🙂 O,, wait, read this first to help you knowing the cast in this story 🙂

Chapter 1: We decide it with no easy

Melangkah ke depan untuk meninggalkan masa lalu..
Bukan untuk menghapusnya..

Menjalani masa depan untuk mendapatkan cerita baru..
Bukan berarti melupakan cerita lama..

Hanya suara jam yang terdengar. Harumi, Woona, Hyejin, Jehyun, Hyera, Aimiko dan Jiyoo, diam tanpa sepotong suarapun. Jiyoo mulai merasa tidak enak. Diliriknya satu persatu wajah mereka, dia ingin memecah kecanggungan, tapi apa yang harus dia katakan? Dia bukan tipe orang yang bisa mengangkat topik pembicaraan terlebih dahulu. Jiyoo pun menelan kembali niatnya dan memilih diam saja.

“oke sepertinya aku harus menghentikan keheningan ini. Karna aku yang ditunjuk sebagai leader kalian, mau tidak mau aku harus mengurusi kalian mulai dari sekarang.” Harumi menatap mereka bergiliran. “Hyejin, berhenti bersikap acuh. Mulai sekarang kita akan bekerja sama. Kita harus membangun chemistry.

“sudahlah Unnie, terserah dia saja mau bagaimana.” Jehyun menanggapi. Sepertinya dia masih tidak terima jika harus debut dengan hyejin. Sementara Hyejin hanya diam seperti biasa. Moodnya masih tidak terlalu bagus.

“sstt.. jehyun-a…” Hyera memegang bahu jehyun yang duduk di sampingnya. Hyera memang dekat dengan jehyun sejak trainee. Dan terkadang dia bisa lebih dewasa dari jehyun atau bahkan lebih kekanakan.

“jehyun trouble maker. Haha..” aimiko tertawa dan langsung mendapat jitakan dari jehyun. Sementara Jiyoo hanya menggeleng.

“lalu..?” Woona bertanya karna sepetinya Harumi belum menyelesaikan bicaranya.

Harumi menarik napasnya agak keras. “kita harus dekat satu sama lain. Mungkin tidak sulit bagi jehyun, hyera, aimiko, woona, jiyoo dan aku karna kita sudah dekat sejak masa trainee. Tapi bagi Hyejin? Selain karna dia baru, aku yakin dia agak sulit mengakrabkan diri.” Yang lain mendengarkan dengan serius.

Hyera mengangguk. “ya, sepertinya memang begitu. Dan,, bagaimana caranya??”  pertanyaan Hyera membuat harumi terdiam. Dia tampak berpikir keras. Sesekali dia membuka mulutnya seperti akan berbicara sesuatu namun kembali ditutupnya karna sepertinya dia tidak tau harus bicara apa.

“dengan meningkatkan frekuensi bertemu dan mengobrol kalian.” Manajer Kim tiba-tiba datang dan duduk di sofa. “kalian akan tinggal bersama di asrama mulai besok.” Kata-kata ini otomatis membuat mereka semua tersentak kaget. Sementara Manajer Kim hanya tersenyum.

“kenapa harus secepat itu? Aku bahkan belum bicara pada eomma dan appa ku..” Jiyoo menggigit bibir bawahnya. Membayangkan akan seperti apa kemarahan ayahnya nanti saat tau dia akan menjadi penyanyi. Menjadi trainee SM saja dia harus sembunyi-sembunyi.

“kalian harus mempersiapkan debut kalian dari sekarang.”

“kami harus melakukan apa?” Tanya Hyera dengan polosnya.

“kalian akan debut dengan sebuah single yang lagu nya dibuat oleh tim dari perusahaan. Jika single ini mendapat respon yang bagus, kalian akan lanjut dengan mini album. Dan di mini album ini kami belum memutuskan apakah kalian ikut serta membuat lagu atau tidak. Tapi untuk mengantisipasi lebih baik kalian menciptakan lagu kalian sendiri dulu.”

Harumi mengangkat tangannya. “dan..konsep lagu itu adalah..?”

“hmm.. kalian lihat saja nanti lusa saat kalian sudah menempati asrama baru dan selesai membereskan barang-barang.” Manajer Kim tersenyum.  “oh ya Hyejin, karna kau sedikit berbeda, kau harus membuat satu lagu untuk mini album nanti. Itu kami anggap sebagai tes masuk perusahaan yang tidak kau lakukan sebelumnya.”

“itu tidak masalah. Yang menjadi masalah adalah, aku harus tinggal di asrama dengan mereka. Apakah itu harus? Aku sudah punya tempat tinggal.”

“yak! Kau sombong sekali. Kau pikir hanya kau yang sudah punya tempat tinggal? kami juga. Tapi kami tidak protes tentang tinggal di asrama. Kau terlalu bertingkah” seru Jehyun penuh penekanan. Hyejin meliriknya dan berdecak kecil.

“tempat tinggal? kau sebut hotel sebagai tempat tinggal?” hyejin tampak sedikit kaget karna dia pikir tidak ada satu orangpun yang tau dimana dia tinggal. “itu bukan tempat tinggal, Hyejin. Kau belum ada tempat untuk menetap. Jadi tidak ada alasan untuk  menolak tinggal di asrama.” Hyejin menghela napasnya. Kehidupan rumah, sebuah suasana asing yang sangat ingin dia hindari.

“sekali lagi aku ingatkan, kalian sudah menandatangani kontrak, itu artinya kalian akan mendedikasikan diri kalian sepenuhnya pada perusahaan dan kalian akan bertanggung jawab atas apapun yang kalian lakukan. Ingat, kalian disini bukan untuk bermain-main. Kalian punya mimpi, menjadi bintang, dan sekarang jalan untuk mewujudkan impian itu sudah didepan mata. Aku harap kalian tidak menyia-nyiakan kesempatan ini.” Ketujuh gadis itu terdiam, mencerna penuturan panjang Manajer mereka.

“aku harus menjadi bintang.. aku harus membuktikan pada kakek bahwa aku bisa..” Woona meyakinkan dirinya bahwa saat itu akan datang. Saat dimana kakeknya tidak akan memandang rendah dirinya lagi, memandang rendah impiannya untuk menjadi seorang penyanyi karna dia yakin bahwa dia akan berhasil.

“aku ingin mewujudkan mimpiku. Aku ingin melakukan sesuatu yang aku suka, bukan karna ayah.” Jiyoo berusaha meyakini bahwa apa yang dilakukannya tidak salah. Bahwa mimpinya adalah segalanya. Dan dia tidak bisa selamanya berdiri di balik punggung ayahnya.

“aku berharap ini yang terbaik. Aku akan mewujudkan satu-satunya impian yang belum ibu raih” Hyejin bertekad untuk menghadapi semuanya. Menghadapi dunia asing yang siap menantinya.

“aku harus keluar dari bayang-bayang keluargaku dan membentuk kehidupan baruku  sendiri.” Harumi menelan ludahnya. Pahit. Selalu itu yang dia rasakan. Mulai sekarang dia tidak akan tersenyum menyembunyikan hatinya yang menangis. Tapi dia akan tersenyum sepenuhnya karna dia akan segera membuang kesedihan terkutuk yang selama ini selalu menemaninya.

“aku pasti bisa. Aku akan menjadi dancer terhebat di seluruh korea. Bahkan dunia.” Jehyun tersenyum membayangkan titel ‘dancing machine’ yanga akan segera dia dapatkan. Dia akan buktikan bahwa dia bisa setara dengan saudara tirinya. Bahwa dia juga mempunyai bakat yang luar biasa.

“aku harus keluar dari rumah terkutuk itu. Aku akan terbang bebas, kemanapun aku mau. Melakukan apapun yang aku inginkan.” Hyera tidak sabar menanti saat-saat itu tiba. Saat dirinya bisa terbebas dari peraturan keluarga yang selama ini mencekiknya.

“aku harus bisa .. kakak pasti sangat senang melihatku mencapai impianku ini.” Aimiko tersenyum puas. Karna pada akhirnya dia bisa keluar dari masa lalunya dengan kakak tercinta yang mungkin tengah memperhatikan setiap langkahnya dari atas sana.

Harumi, Hyejin, Woona, Hyera, Jehyun, Aimiko dan Jiyoo berjalan di lorong gedung SM, menuju pintu keluar. Disaat yang bersamaan dari arah yang berlawanan terlihat 9 orang dari grup lain berjalan dengan penuh percaya diri. Sunbae-nim mereka, So Nyeo Shi Dae. Jehyun meremas ujung kemejanya saat berhadapan tepat dengan Hyoyeon, kakak tirinya. Entah sengaja atau tidak, bahu mereka menyenggol satu sama lain. Jehyun melirik kakak tirinya sinis. Di lain sisi, Harumi sedikit menundukkan kepalanya saat berpapasan dengan Yoona. Sebagai leader, dia pikir dia harus menunjukkan sikap yang baik. Dan yoona membalasnya dengan sedikit senyuman.

“ah, changkan..” suara Yuri yang berdiri tepat di belakang Hyejin membuatnya berbalik. Keenam orang yang lainpun ikut berhenti dan berbalik dengan sendirinya. Sementara member SNSD yang masih bersama Yuri hanya Tiffany dan Jessica. “kalian grup baru yang akan segera debut itu, kan?” tanyanya dengan sebuah senyuman yang sulit diartikan. Harumi yang berdiri disamping Hyejin mengangguk. Itu karna Hyejin hanya diam menatap yuri dengan tatapan datarnya. “aku mendengar banyak tentang debut kalian. Dan, aku masih ingat kalian. Kita sempat menjalani pelatihan bersama, kan?” tanyanya lagi. “tentu saja kau masih ingat. Kita selalu membicarakan kemampuan mereka, bukan? Kau bilang mereka—“ Yuri mengangkat tangannya dan menghentikan omongan Tiffany secara otomatis. “apa kalian mau aku beri tau beberapa hal??” Yuri menyeringai. Hyera menatap Jehyun heran. Sementara Jehyun hanya menggendikan bahunya. “apa itu?” jawab woona yang sepertinya sudah tidak sabar ingin pulang. “yang pertama, aku tau nama grup kalian. Dan aku yakin kalian tidak tau.. Nama grup kalian adalah ‘Sweet Seven Teen’.” Yuri menekan kata ‘sweet seven teen’ dengan wajahnya yang seperti menahan tawa sementara 7 orang di hadapannya hanya menatapnya dengan dahi yang berkerut. “w..wae? kenapa reaksi kalian hanya seperti itu? Yak!” Yuri memengumpat kesal. sementara Tiffany tertawa lepas dan Jessica mengerucutkan bibirnya.

“dan.. bagaimana reaksi kami seharusnya, unnie?” Aimiko masih mengerutkan keningnya.

“wow! Hanya hal kecil seperti ini saja kalian tidak mengerti? Hebat. Perusahaan memang sudah bertindak terlalu jauh dengan mengorbitkan orang-orang seperti kalian. Biar kujelaskan ya,, nama grup kalian itu sweet seven teen dan kalian sama sekali bukan gadis berumur 17 tahun. Itu poin yang menjadi sorotan. Tau?” cerocos Jessica seperti laju kereta api.

“hahaha… kau benar, kau benar unnie. Haha.. itu sangat lucu ya. Nama grup kami unik. Hahaha..” Aimiko terbahak karena menurutnya hal yang baru saja dikatakan Jessica itu lucu. Dan Jessica hanya memutar matanya kesal.

“aku rasa itu bukan hal yang lucu” bisik Hyera ke telinga Jehyun yang hanya dibalas Jehyun dengan mengangkat bahu, lagi.

Harumi menghela napasnya kecil. “dan apa hal yang kedua, sunbae-nim?”

“yang kedua… ah sudahlah! Aku malas berbicara dengan kalian lagi. Jangan bicara padaku dulu untuk sementara waktu, oke? Khaja Fany-ah, Sica-ah..” Yuri menarik tangan kedua temannya itu. Tiffany melambai-lambai sambil tersenyum dan Hyera membalasnya tak kalah riang.

“ada-ada saja mereka. Aku jadi terlambat pulang.” Gerutu Woona sambil melanjutkan berjalan keluar gedung, diikuti enam orang yang lainnya.

“ne unnie.. aisshh.. ayah pasti akan memarahiku karena terlambat pulang lagi.” Jiyoo mengerutkan bibirnya lucu. Aimiko merangkul pundaknya dan berbisik sesuatu. Jiyoo menjitak kepalanya sambil menggerutu.

“aissh.. kau kan tinggal memakai sekolah sebagai alasan seperti biasa.. dan kau Woona, kau pulang ke rumah? Konfrontasi berakhir, huh?” Harumi tergelak.

“siapa bilang? Aku akan melanjutkannya. Kali ini aku akan menjatuhkan bom tepat di depan wajahnya.” Tangan Woona mengepal sempurna matanya berkilat.

“eiishh.. bukankah itu sedikit berlebihan, unnie..” Jehyun mengomentari dari belakang. Dan Woona tidak menanggapinya. Hyejin menggaruk kepalanya pelan. Dia sebenarnya ingin mengabaikan obrolan mereka, tapi nyatanya dia mendengar semua yang mereka ucapkan. Dan pada akhirnya dia tidak mengerti sama sekali.

“jjang~ kita sudah di halte sekarang. Hyejin di mana letak hotelmu?” Tanya Harumi.

“aku naik Bus 208 dari halte ini” jawab Hyejin setelah mengingat dari apa yang dibacanya di internet.

“kalau begitu kita naik Bus yang sama. Dan kalian?” Tanya Harumi lagi.

“aku ke asrama Trainee..” Jawab Jehyun.

“aku juga aku juga!” Aimiko melepaskan tangannya dari bahu Jiyoo dan menggandeng tangan Jehyun.

“aku akan ke stasiun kereta bawah tanah..” jawab Jiyoo.

“denganku.” Sambung Woona yang langsung mengalihkan pandangannya pada Hyera. Sementara Hyera tidak merespon. Dia malah balas melihat Woona. “yak! Kau ikut dengan kami, kan? Rumahmu searah denganku, kan?”

“kau duluan saja unnie..” Kata Hyera dengan malas. Semua orang menatapnya dengan heran, kecuali Hyejin yang melangkah mendekati Bus yang berhenti tidak jauh di depan mereka.

“yak yak yak.. kau mau kemana?” Harumi menarik Lengan Hyejin dan membalikkan badannya.

“pulang. Itu bus 208 kan?”

“iss… kan sudah kubilang aku naik bus yang sama denganmu.”

“kalau begitu naik saja.”

“Hyejin,,, berhubung aku ini leader di grup ini, jadi aku akan menunggu sampai semua orang naik Bus masing-masing.” Ucap Harumi dengan yakin. Hyejin mengangkat ujung bibirnya. Sementara yang lain tertawa mendengar ucapan Harumi.

“aigoo.. leader kita ini memang nomor satu.” Woona mencubit pipi Harumi dan Harumi memejamkan mata kecilnya karna tersenyum lucu.

cd~~~~cd

Di sebuah ruangan, dua pria tua yang mengenakan setelan jas hitam tengah berbincang dengan santai.

“yak, kau tau kau itu sangat serakah. Kau memendam mutiara itu untuk dirimu sendiri. Setidaknya kau harus membagi kilaunya pada orang lain.” Ujar pria tua bersuara berat dengan memasang wajah seolah-olah kecewa.

Pria berkacamata tertawa kecil dengan suara khas nya itu. “kalau seperti itu aku terlalu terburu-buru. Dia hanya sebuah mutiara, jika aku perlihatkan pada kalian sekarang aku yakin kalian hanya akan terpesona untuk sesaat. Aku akan menggabungkannya dengan mutiara-mutiara lain dan bayangkan bagaimana kilau yang akan mereka pancarkan?”

“haha.. kau bukan hanya serakah rupanya. Kau lebih dari itu. Tapi harus ku akui bahwa kau itu hebat. Kau bisa menemukan talent hebat seperti itu.”

“ya.. dia hebat. Tapi dia masih harus belajar. Tidak cukup hanya dengan suara yang bagus dan wajah cantik. Dia masih belum bisa bersikap di depan pers dan di masyarakat. Aku yakin dia tidak pernah mempelajarinya sebelumnya ..”

“maka dari itu kau membuatnya bergabung dengan kelompok yang sudah lebih dulu kau latih?” pria bersuara berat memotong. Dan pria berkacamata itu menyambutnya dengan anggukan dan senyuman lebar. “baik kalau begitu. Aku bertaruh besar pada proyek kali ini.”

“kau tidak akan kecewa. Aku jamin.” Pria berkacamata menjabat tangan pria di depannya itu.

Jehyun dan Aimiko tengah berjalan menuju asrama Trainee. Hari sudah gelap dan jalanan hanya diterangi oleh lampu jalan yang cahayanya sudah meredup.

“unnie.. apa kau yakin debut kita akan berhasil?” Tanya Aimiko.

Jehyun melirik Aimiko yang berjalan di sampingnya. “kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu? Itu terdengar aneh.”

“tidak.. hanya saja,, aku masih ragu kita dapat melakukannya dengan baik. Meskipun kita dekat, tapi kita belum terlalu saling mengenal pribadi masing-masing, kan. Terlebih lagi ada Hyejin unnie..”

“aigoo… sudahlah. Sebaiknya kita berpikir positif saja. Apapun yang terjadi nanti, aku yakin itu yang seharusnya terjadi. Aku bahkan tidak memikirkannya.. hhhh..” Jehyun menggeleng.

“ckk, seperti perkiraanku.” Bibir Aimiko mengerucut. “ah ya, unnie sepertinya kau tidak terlalu menyukai Hyejin unnie..  kau bisa katakan kenapa?”

“hmm..” Jehyun sedikit menggembungkan pipinya. “kau terlalu ingin tau!” dia mengacak rambut Aimiko dan berlari. Aimiko berteriak kesal sambil merapikan rambutnya dan mengejar Jehyun yang sudah cukup jauh. “unnie tunggu aku!! Aku takut, kau tauu?! Ini tidak lucu unnie….” Teriaknya masih sambil berlari.

“mwo?!”  Tuan Cho terlihat kaget. Dia menaruh cangkir teh di tangannya lalu menatap Jiyoo dengan wajah marah. “apa yang baru saja kau katakan? Kau ingin menjadi penyanyi? Di perusahaan yang sama dengan kakakmu?”

Jiyoo hanya bisa menunduk. Bahkan dia belum mengganti seragamnya dan masih menggendong tas nya. “ne, appa.. besok aku harus pindah ke asrama..”

“tidak. Aku tidak akan pernah mengijinkanmu pergi dari sini selangkahpun. Tidak untuk kedua kalinya aku bertindak bodoh dengan membiarkan anakku menjadi penyanyi.”

“tapi appa…” Jiyoo mengangkat kepalanya. “menjadi penyanyi bukanlah hal yang memalukan appa.. bukankah yang terpenting adalah aku mencapai impianku?? Appa selalu bilang seperti itu..”

“tapi setauku bukan ini impianmu!” Suara Tuan Cho meninggi. Sementara Nyonya Cho hanya diam dan memandang Jiyoo prihatin. Bahkan Ibunya sekalipun tidak bisa menenangkan Ayahnya saat marah. “impianmu adalah menjadi seorang guru yang sangat dicintai muridnya. Seorang guru yang akan mencerdaskan anak-anak korea. Itu impianmu, Jiyoo.”

“bukan. Itu impian appa. Appa selalu ingin aku mengikuti jejak appa menjadi seorang guru. Dan dengan polosnya aku mengiyakan semua yang appa katakan. Aku mengikuti bimbingan belajar diluar sekolah karna appa ingin nilaiku selalu bagus, aku mengikuti kursus matematika dengan waktu ekstra, karna appa ingin aku memenangkan olimpiade. Aku melakukan semuanya karna appa, karna aku ingin menjadi anak yang baik dengan mengikuti semua yang appa katakan. Tapi ternyata appa tidak benar-benar memikirkan kepentinganku. Appa melakukan semuanya hanya untuk menjaga nama baik appa di mata orang-orang karna appa memiliki anak yang pintar dan berprestasi. Dan sekarang aku ingin melakukan sesuatu karna diriku sendiri, bukan karna appa.” Jiyoo berkata dengan suara yang sedikit bergetar. Matanya mulai berair. Dan air mata itupun jatuh saat dia mengerjap.

“kau..” Suara Tuan Cho tercekat. “aku tidak pernah mendidikmu untuk melawan perkataan orangtua, Jiyoo. Katakan, apa yang telah mereka lakukan sampai-sampai kau berubah seperti ini!”

“tidak ada. Mereka tidak melakukan apapun. Bukan mereka appa,, tapi appa sendiri yang membuatku berani berkata seperti ini. Kau sengaja menyembunyikanku dari publik bukan karna kau khawatir atas keselamatanku dan kenyamananku, kan? Tapi karna kau tidak ingin orang-orang mengenalku dan menemukan kemampuan menyanyiku.. Benar kan, appa? Aku tidak ingin appa bohongi lagi. Aku sudah cukup besar untuk menentukan jalan hidupku!”

“beraninya kau berteriak pada appa mu!!” Tuan Cho mengangkat tangannya hendak memukul pipi Jiyoo, sementara Jiyoo langsung memejamkan matanya dan menunduk, bersiap menahan sakit.

“appa!” seseorang yang baru masuk ke ruang keluarga itu berjalan mendekati sofa. Jiyoo memandanginya dengan tatapan bersyukur sekaligus khawatir. ‘Kau datang tepat waktu oppa. Tapi bagaimana jika appa malah memukulnya? Dasar bodoh!’ Pikir Jiyoo.

“Kyuhyun-ah..” Nyonya Cho menghampiri laki-laki yang bernama Kyuhyun itu dan memegang lengannya.

“kenapa kau datang? Kau hanya akan memperburuk situasi…” kata Nyonya Cho dengan suara berbisik.

“apa yang kau lakukan di sini? Kau mau bertindak seperti pahlawan, hah? Kau lihat, karna kau sering membawanya ke konsermu dia menjadi seperti ini. Kau pikir aku tidak tau? Apa kalian menganggap aku ini anak kecil??!” suara Tuan Cho menggema di ruangan itu.

Kyuhyun menyeringai kecil sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “aku tidak bermaksud mempengaruhinya appa… kenapa kau begitu serius? Kita bisa membicarakannya dengan baik-baik seperti biasanya.”  dia duduk di samping Jiyoo.

“apanya yang baik-baik? Mendengar perkataannya barusan seolah dia mengibarkan bendera perang di depan wajahku.” Tuan Cho mengunci Jiyoo dengan tatapan tajamnya. Dan itu membuat Jiyoo semakin menggeser duduknya ke arah Kyuhyun tapi Kyuhyun malah mendorongnya kembali menjauh.

“memang apa yang salah dengan ucapannya?” wajah Kyuhyun berubah menjadi serius.

Tuan Cho menatap mata Kyuhyun. “dengar, dia itu baru akan lulus sekolah menengah atas. Dia harus mengambil tes masuk universitas, mendapat gelar sarjana dan mendapat sertifikat mengajar. Perjalanannya masih jauh. Aku tidak mau dia berhenti bahkan sebelum memulai perjalanannya dan membuang-buang masa mudanya yang berharga dengan hal-hal tidak penting seperti dunia hiburan itu.”

Kyuhyun sedikit menarik ujung bibirnya. “appa.. dia masih bisa melakukan itu semua sambil berkarir. Jika dia melepaskan impiannya menjadi seorang penyanyi di sini, aku malah khawatir dia akan menyia-nyiakan masa mudanya dengan hal yang sama sekali tidak dia inginkan.”

Diam-diam Jiyoo melirik Kyuhyun yang duduk di sampingnya. ‘apa yang salah dengan setan ini? Kenapa dia bisa bicara seperti itu?’ Jiyoo sedikit mencebik. Tapi dia sedikit bersyukur dan gembira karna kakaknya bisa diandalkan di saat-saat seperti ini, tidak seperti biasanya yang bisanya hanya menjahilinya.

Tuan Cho sedikit memiringkan kepalanya. “apa maksud perkataanmu? Apa maksudmu yang baru saja aku katakan itu hanya akan menyia-nyiakan masa mudanya?”

“kenapa appa berpikir seperti itu? Bukankah semuanya sudah jelas? Dia bilang dia tidak ingin terus menerus melakukan apa yang appa perintahkan, kan? Bukannya dia tidak ingin kuliah.. Jadi maksudku, biarkan saja dia melakukan apa yang ingin dilakukannya. Aku yakin dia anak yang pintar dan punya kemauan. Dia pasti akan masuk universitas dan belajar dengan baik.” Kyuhyun menambahkan sedikit senyuman penuh keyakian di akhir kalimatnya.

“yak! Cho Kyuhyun! Kau pikir semuanya semudah itu?!!!” Tuan Cho menepuk kaki Kyuhyun keras. Sementara Kyuhyun hanya bisa menelan ludahnya dengan susah payah. Rencana yang disusunnya tidak berhasil. Kata-kata yang disiapkannya tidak berfungsi sama sekali pada ayahnya. Jiyoo menatap kakaknya prihatin. Dia sedikit menyesal mengatakan bahwa Kyuhyun itu penyelamat, karna yang ada dia malah membuat semuanya semakin sulit. ‘benar apa yang dikatakan Eomma (==..==) Cho Kyuhyun kau memperkeruh semuanya, bodoh!’ Rutuknya dalam hati.

Di tempat lain, di sebuah rumah yang sebagian lebih dindingnya sudah mulai usang, Harumi duduk di lantai dengan menekuk kakinya. Dia memiringkan kepalanya di atas kedua lengan yang ditekuknya di atas lutut. Matanya menyusuri setiap senti dinding di depan matanya yang banyak coretan dan tempelan-tempelan tokoh kartun. Coretan dari pinsilnya saat dia pertama kali bisa menulis hangul. Tempelan yang dibelikan Ayahnya saat pulang kerja yang dia tempelkan bersama dengan Kakaknya lalu Ibu mereka memarahi mereka. Harumi tersenyum. Perlahan airmata membasahi pipi nya. Senyuman itu menghilang dan tatapannya menjadi kosong. Sakit itu kembali dirasakannya. Lelah itu kembali menyerangnya. Dia ingin berteriak pada tuhan, kenapa sangat tidak adil padanya?? Kenapa tuhan mengambil kedua orangtuanya sekaligus dan membiarkannya sendirian di dunia ini? Apakah belum cukup tuhan mengujinya dengan mengirim Kakaknya ke neraka kecil dunia? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang belum dia temukan jawabannya. Air mata Harumi mengalir semakin deras. Dia menahan isakannya. Dia tidak ingin siapapun tau kalau dia sedang menangis. Siapapun, termasuk laba-laba kecil yang ada di sudut lain ruangan ini.

Rumah ini satu-satunya tempat yang menyimpan banyak kenangannya dengan orangtua dan kakaknya yang sekarang entah di mana. Tempat ini yang selalu membuatnya merasakan sakit karna selalu mengingatkan tentang masa-masa indahnya yang sekarang tidak mungkin lagi dia rasakan. Tapi tempat ini sangat sulit untuk dia lepaskan. Bahkan segudang berlian pun tidak akan cukup untuk membeli rumah dengan banyak kenangan berharga ini. Dia tau, cepat atau lambat dia harus melepaskan tempat ini. Melepaskan tempat ini berarti juga melepaskan kenangan di dalamnya. Dia selalu ingin terlepas dari ini semua dan memulai hidup baru. Tapi sekarang saat semuanya sudah di depan mata, kenapa terasa sangat sulit? Harumi mengambil napasnya dengan berat sambil meyakinkan dirinya sendiri bahwa keputusannya sekarang sudah sangat benar. Keputusan untuk menutup cerita lamanya dan mulai menuliskan cerita baru di lembaran baru hidupnya.

Woona berjalan dengan malas memasuki halaman sebuah rumah bergaya Eropa yang sangat luas. Di halaman itu terdapat banyak tanaman indah yang di perlakukan dengan sangat baik. Bahkan lebih baik daripada cara Woona di perlakukan. Setidaknya tanaman-tanaman itu diberikan kasih sayang saat kakek nya memberikan pupuk dan air.

“nona, anda pulang juga akhirnya..” sambut seorang pelayan yang sudah cukup tua dengan wajah khawatirnya saat Woona baru saja memasuki rumah. “anda tidur di mana nona? Tidak baik seorang gadis menginap di sembarangan tempat..” wanita tua itu mengekor di belakang Woona yang berjalan menuju ruangan utama.

“sudahlah Bibi Jung. Aku bukan anak kecil.” Ucapnya acuh. Sementara wanita tua yang biasa di panggil Bibi Jung itu hanya diam meskipun sebenarnya dia ingin bicara panjang lebar, menasehati nonanya. Dia sangat paham bahwa sekarang Nona mudanya itu sedang tidak di dalam mood yang bagus. Mereka memasuki ruangan yang luas dan di dalamnya terdapat satu set sofa mewah dan beberapa guci antik yang dipajang di setiap sudut ruangan . Ruangan ini juga sangat terang karna cahaya dari belasan lampu yang terdapat di dalam sebuah lampu gantung mewah. Woona duduk di salah satu sofa yang juga di duduki oleh seorang pria tua yang tengah tenggelam dalam Koran di tangannya. Koran yang selalu dilewatkannya setiap pagi karna sangat pagi sekali dia sudah berangkat ke kantornya. Maka sudah menjadi kebiasaan untuk membaca Koran di saat hari mulai gelap seperti ini. Tuan Kim, seorang workaholic yang perusahannya memiliki cabang di hampir tiap Negara di Dunia.

“anda ingin saya bawakan susu coklat, nona?” suara lemah itu berbisik di dekat telinga Woona. Woona hanya mengangguk. Matanya masih mengamati Kakek yang duduk di hadapannya. Bibi Jung pun menyuruh seorang pelayan muda yang selalu bersiap di sekitarnya untuk membuatkan susu coklat.

“haraboeji..” panggil Woona. Tapi Kakeknya itu tidak mennggapi. “haraboeji aku ingin bicara!”

Tuan Kim melipat Koran di tangannya dan melepas kacamata yang dikenakannya. Lalu dia mengubah posisi duduknya menjadi menghadap Woona. Dia mulai menua, tapi tatapan mata yang tegas itu tidak pernah hilang. “kau baru saja pulang setelah seminggu entah berada di mana dan langsung membentakku? Setidaknya bersihkan dulu debu yang menempel di tubuhmu agar tidak mengotori sofa ku. Apa yang ingin kau bicarakan? Uangmu habis dan teman-temanmu meninggalkanmu? Kau ingin meminta uang lagi?”

“haraboeji!” Woona berteriak dan menatap kakeknya marah. Sampai-sampai pelayan muda yang sedang meletakkan segelas susu coklat di atas meja terlonjak kaget, begitu juga dengan Bibi Jung. Tapi ternyata di balik kemarahan itu terdapat kekhawatiran dan ketakutan yang tidak pernah bisa dibaca oleh siapapun. Topeng yang digunakannya terlalu tebal untuk di tembus dengan hanya menggunakan mata biasa, tanpa kasih sayang dan keinginan untuk melindunginya. “aku baru saja pulang dan kau sudah membicarakan omong kosong?? Keurae, katakan saja aku kesini karna kehabisan uang, tapi jika itu benar-benar terjadi, aku akan kesini untuk mengambil barang-barangku dan membawanya kesebuah tempat yang akan memberikanku lebih banyak uang dari pada yang kau berikan! Bahkan lebih banyak dari pada yang kau punya sekalipun!!”

“wae? Perusahaan sampah itu menerimamu? Kau benar-benar akan mengandalkan dunia itu untuk mendapatkan banyak uang? Lupakan saja karna itu tidak akan pernah berhasil. Ambil alih cabang perusahaanku di singapur sambil melanjutkan kuliahmu di sana. Itu cara yang paling benar untuk mendapatkan banyak uang.”

“shireo. Aku tidak ingin terjebak di sana sampai mati dan menyia-nyiakan waktuku dengan saham atau apalah itu yang kau lindungi mati-matian. Dan juga, aku tidak ingin menjadi seperti ibu yang membuang impiannya hanya demi perusahaan bodohmu itu dan pada akhirnya mati di dalam penyesalan!”

“Kim Woona!!” Tuan Kim menggebrak meja di depannya. Namun kemudian dia berusaha kembali bersikap normal.

“wae? Aku benar, kan? Waktu itu ibu ingin menjadi seorang pelukis kelas dunia dan dia hampir saja mencapai impiannya jika saja kau tidak datang dan mengacaukan semuanya! Dan dia harus hidup di dalam kepura-puraan, berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, berpura-pura bahwa dia tidak apa-apa harus seharian berada di kantor dan menelantarkan anak-anaknya!” wajah Woona semakin terlihat merah. “aku sudah sering membahas hal ini dan aku yakin haraboeji menyadarinya. Tapi kenapa haraboeji tidak pernah mau mengakuinya??!”

Mata tegas itu terbelalak dan terlihat sedikit kacau. Tapi kemudian dia mengambil kembali Koran yang disimpannya dan kembali membacanya, menyembunyikan wajahnya di balik Koran yang dibukanya lebar-lebar. “lakukan semaumu karna pada akhirnya kau akan kembali dan mengemis maaf karna telah berbicara seperti ini.”

Woona mendengus kasar lalu meneguk habis segelas susu coklat di hadapannya sampai habis. Napasnya naik turun. Matanya menatap tajam Kakek yang duduk di depannya. Dia merutukinya habis-habisan di dalam hati.

“nuna kau pulang juga akhirnya! Kau kemana saja?? Rumah sangat sepi tanpamu nunaa..” seorang remaja laki-laki, lebih tepatnya adik woona, langsung mengambil tempat di samping Woona dan merangkul pundaknya.

Woona menelan habis susu cokolat yang masih tersisa di mulutnya dengan susah payah. “yak Kim Woo Sung!! Berhentilah bersikap seolah-olah kau sangat merindukanku! Dan, rumah ini sudah sangat sepi dengan atau tanpa ada aku. Kau sedang berlatih drama, huh?” Woona menyingkirkan lengan Woo Sung dari pundaknya dengan kasar.

Woo Sung hanya menyeringai seperti anak kecil. “kau sangat pintar nuna-yaa… ah ya, nuna, kau bisa memberiku sedikit uang? Kartu Kredit ku diblokir oleh se-se-o-rang.” Woo Sung memicingkan matanya ke arah Tuan Kim.

Woona mendelik. “siapa yang memblokir kartumu dan siapa yang kau mintai uang, hah?? Minta saja padanya sana!” Woona melipat kedua tangannya di dada. Woo Sung mencebik dan memanyunkan bibirnya, berusaha terlihat cute agar Woona mau memberinya uang. Tapi yang ada malah Woona mendorong kaki Woo Sung dengan kakinya dan membuatnya meringis.

Hyejin terbaring di atas kasur bersprai putih di kamar hotelnya. Matanya memandangi langit-langit seolah di sana sedang terputar sebuah film yang sebenarnya adalah ingatan tentang masa lalunya sendiri. Dia tersenyum saat melihat seorang anak perempuan kecil yang tengah berlarian di  padang rumput sambil tertawa karna di kejar ayahnya. Sementara Ibunya sedang duduk di atas tikar sambil mengeluarkan bekal makan siang yang mereka bawa dari rumah. Tapi kemudian wajah Hyejin kembali dingin saat dia sadar bahwa itu hanya sebuah ingatan yang tidak akan pernah mungkin terjadi lagi. Dia terduduk lalu beranjak dari kasurnya dan mengambil sekaleng soda dari lemari pendingin kecil di samping lemari. Dia berdiri di depan kaca kamar hotel yang menyuguhkan pemandangan malam kota seoul.

“semuanya berawal dari kota ini. Apakah akan berakhir di sini juga?” gumamnya pada diri sendiri. Di teguknya kaleng soda dingin di tangannya. “lalu apa yang harus ku lakukan pada pria itu?” gumamnya lagi. Masalahnya dia tidak tau harus memilih pilihan yang mana. Jika dia membuka kembali kasus itu mungkin akan sulit karna itu terjadi sudah sangat lama. Dan jika seperti itu, sama saja seperti dia sama sekali tidak mempunyai pilihan. Apakah dia harus melupakan semuanya? Melupakan kasus kematian ayahnya? Tapi bukankah itu sangat menguntungkan untuk Yesung dan sangat tidak adil untuknya. “tunggu, kenapa aku harus merasa tidak adil? Jika memang ceritanya benar seperti itu, itu artinya mereka tidak sengaja melakukannya, kan?” lama Hyejin terdiam. Berdebat dengan pikirannya sendiri tentang mana hal yang paling benar yang harus dia lakukan. “aaahhs!! Dunno!!” dia meneguk habis soda yang tinggal setengah itu. “why is this so frustrating?! I hate to be stuck in such a complicated thing like this!” Hyejin meremas kaleng soda yang telah kosong itu dan melemparnya dengan keras entah ke mana. Dia tertunduk sehingga wajahnya tertutup oleh rambut hitamnya. “should I let it go? Should I give it up here??” gumamnya dengan suara lemah.

Hari sudah mulai larut. Hyera duduk di halte sendirian, dengan sebuah koper dorong dan tas tangan yang lumayan besar dan terisi penuh yang diletakkan di sampingnya. Dia menunduk, memandangi kakinya yang berayun-ayun pelan menggambarkan pikirannya yang sedang berpikir perlahan. Dia mengingat kembali semuanya, beberapa jam yang lalu saat dia pulang ke rumahnya, saat suara lemah lembut Ibunya menasihatinya dan melarangnya pergi, saat dia berteriak dan menangis…

“aku sudah lelah dengan kehidupan kerajaan ini Bu! Aku ingin terbang bebas di luar sana tanpa terikat apapun! Aku juga ingin merasakan hidup seperti orang lain yang tidak perlu memikirkan peraturan saat melakukan sesuatu. Aku akan melepaskannya Bu, aku akan melepaskan gelar putri itu.. lagi pula masih ada pangeran Je Min yang akan mengambil alih kerajaan. Jadi tidak ada gunanya lagi kalian menahanku di sini. Aku hanya akan menjadi pajangan jika terus hidup di sini… aku harap Yang Mulia bisa mengerti.”

Hyera menarik napas. Melepaskan gelar sebagai putri memang mudah, dia bahkan tidak menyesal sama sekali. Tapi hidup jauh dari keluarganya? Meski ayahnya sebagai raja, adiknya sebagai pangeran dan dia sebagai putri, tapi tetap saja mereka adalah sebuah keluarga. Agak sedikit sulit bagi Hyera meninggalkan keluarganya. Tapi dia tidak bisa apa-apa lagi. Dia sudah begitu muak dengan kehidupan kerajaan. Menjadi putri bukan hal yang mudah. Banyak hal yang harus dipelajari dan diperhatikan. Dan Hyera merasa sudah lelah dengan semua itu.

“untuk apa aku mempelajari semua hal memuakkan itu jika pada akhirnya semua itu akan sia-sia? Siapa yang akan mendapatkan tahta? Siapa yang akan meneruskan Yang Mulia? Kenapa harus aku yang terbebani dengan semua tata karma konyol itu?” air mata Hyera kembali menetes. Dia teringat betapa sakitnya saat orang-orang mencibir di belakangnya bahwa kelahirannya sama sekali tidak di harapkan. Dia teringat betapa sakitnya saat mendengar cerita dari dayang istana bahwa betapa kecewa Ayahnya saat tau Ibunya melahirkan seorang anak perempuan. Dia terus menangis, membuat jaket parasut merah mudanya sedikit basah.

To be continued__

Iklan

9 thoughts on “[S7T] Chapter 1 : We decide it with no easy

  1. nidariah

    kebanyakan kata yang samaaaa…
    well, author seniorpun biasanya ngomel ‘gak boleh kebanyakan kata yang sama’ #sok senior banget deh
    tapi secara keseluruhan keren deeeh ! diksinya tepat, alurnya juga menarik dan bisa menarik perhatian 🙂 terutama kisah si leader.

    oke deh, biasanya kalau dikomen pengennya dikomen begini kan?
    hahahah, sori sok tau -,-v

  2. lazygirl13 Penulis Tulisan

    berasa dikomen sama guru sastraa gitu xD
    aku masih agak pabaliut nyeritain action atau tindakannya. jadi begono deh hasilnya.. kekeke~~
    anyway,, kamsahamnida~ arigato gozaimtsu~~ komenan yang sangat membangun ;D *jarang jarang dapet komen beginih xDD

Gimmie ur comment ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s