A Little Truth [Myungsoo’s side]

rrPicsArt_1361636583262

Tittle: A little truth

Type: short story

Cast: Kim Myungsoo, Parj Jiyeon, Lee Jieun

Summary: “Baiklah, aku menyesal. Aku menyesal menyembunyikan kebenaran kecil ini dari awal..”

Aku menimbang-nimbang buku dengan sampul bergambar bintang itu untuk kesekian kali. Aku kembalikan sekarang saja, atau?? Aku tidak tahu kenapa aku bisa menemukan buku ini di Laboratorium kemarin lusa ketika aku sedang tidak sengaja memikirkan tentang dia.
Dia yang selalu tersenyum canggung dan cenderung menghindariku. Entah ini hanya perasaanku saja atau memang benar, dia selalu mengelak, menghindar dariku. Sebenarnya itu bukan hal yang besar, tapi akhir-akhir ini hal itu sangat mengganggu. Tidak tahu kenapa aku benci ketika dia hanya menunduk dan hanya tersenyum sekenanya ketika berpapasan denganku. Bahkan dia pernah membalikkan badannya begitu saja ke arah yang berlawanan ketika akan berpapasan denganku. Kenapa? Apa yang salah denganku? Memang, terkadang aku sedikit sulit memberikan reaksi ketika berbicara atau berhadapan dengannya, tapi, apakah itu benar-benar mengganggu sehingga dia menghindariku seperti itu? Aku hanya,, sebagian dari diriku merasa itu tidak benar. Dia seharusnya tidak bersikap seperti itu padaku.
Kurasa aku memang benar-benar sudah gila karena mengikuti saran Sungyeol hyung untuk mengembalikan buku ini sekarang. Aku berjalan ke arah kelasnya dengan langkah yang sedikit tergesa-terlalu bersemangat– tidak seperti biasanya. Beberapa orang menyapaku dan aku hanya mengangguk asal. Aku harus cepat, sebelum berubah pikiran atau sebelum nyali ku kembali menciut.

Ketika berada di depan kelasnya, aku tanpa sadara ku sedikit mendesah kecewa. Dia tidak ada di sana. Biasanya jika aku lewat kelas ini, aku kan selalu bisa melihatnya karena dia duduk dekat dengan jendela.

Kpercayaan diri itu sedikit menguar. Baiklah, kali ini saja aku akan coba untuk menunggu.
Memilih menunggunya di sini ketimbang vertanya pada teman-temannya yang sedari tadi melihatku sambil berbisik-bisik dan sayup-sayup kudengar mereka menyebut sebuah nama, Jieun. Tidak, jangan sekarang, kumohon…

Kenapa terasa sangat lama? Padahal aku yakin ini belum sampai 2 menit. Ekor mataku menangkap seseorang yang sperti Jiyeon. Aku pun sedikit berbalik dan kembali mendesah kecewa karena itu bukan dia. Kenapa aku bisa begitu menginginkan sosoknya seperti ini? Aku pun memeriksa ke segala arah, siapa tahu ada Jiyeon di sekitar sini. Dan ketika aku berhenti di satu titik, aku merasa semuanya berhenti. Waktu berhenti, begitu juga dengan jantungku. Aku merasa senang sekaligus kikuk ketika mata itu menatapku secara langsung. Matanya indah. Aku menahan napasku sejenak, memberanikan diri untuk mengangkat tangan dan memanggilnya mendekat. Atau menyuruhnya menunggu di sana dan aku akan menghampirinya.
Tapi belum sempat otakku memberi perintah untuk hal itu, seseorang tiba-tiba berdiri di depanku dengan begitu saja. Menahanku untuk memanggilnya, menghalangiku untuk bisa melihatnya.

Aku menatap orang itu dengan kesal, bercampur kaget. Ternyata Lee Jieun. Dia datang diwaktu yang sangat tidak tepat. Senyumnya mengembang lebar diantara pipi cabi nya. Seperti biasa..

“Sunbae mencariku? ada apa??”

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Dan akhirnya aku menjawabnya dengan asal. Bahkan aku sendiri tidak tahu apa yang aku bicarakan itu karna aku ke sini sama sekali bukan untuk menemuinya. Kenapa aktu tidak bilang saja bahwa aku mencari Jiyeon? Kenapa harus berbohong dan berpura-pura bodoh? Mungkin karna aku belum sepenuhnya pulih setelah menerima sengatan beribu-ribu volt tadi-bertatapan langsung dengan matanya.

“Jiyeon-sshi, maaf aku lupa membawa buku mu yang aku temukan di laboratorium kemarin lusa.”
Kataku spontan begitu melihat Jiyeon berjalan melewati Jieun. Bahkan aku melupakan beberapa kata penting yang seharusnya aku ucapkan tadi. Aku mengeratkan kepalan tanganku yang ku simpan di belakang tubuhku. Menunggu respon macam apa yang akan dia berikan.

Dia berbalik dan tersenyum canggung seperti biasanya. Lagi-lagi senyuman itu…

“Tidak apa-apa, sunbae. Tapi sepertinya aku akan butuh buku itu di hari sabtu nanti..”

Dan akupun dengan bodohnya memotong ucapannya dengan kata-kata yang tadi aku lupa untuk ucapkan. Bodoh, bukankah seharusnya aku menunggu dia menyelesaikan kata-katanya dulu? Aku sering kali seperti ini. Dan aku menyesal. Sungguh. Kejadian ini sudah terjadi berulang-ulang. Pasti dia akan merasa risih dan semakin menjauhiku.
Aku tidak bisa mengelak bahwa aku selalu saja bersikap bodoh setiap kali berada di dekatnya..

Dia hanya tersnyum kecil dan mengangguk, hampir tidak terlihat, lalu berjalan masuk ke dalam kelas dengan langkah yang tenang. Kelewat tenang bahkan. Apa mungkin ini semua tidak berarti untuknya? Aku sempat berpikir-atau mungkin berharap- dia akan merasa cemburu atau apa ketika melihatku dengan Jieun di sini. Tapi ternyata reaksinya hanya seperti itu.
Jieun pun kembali berceloteh tentang ini dan itu. Aku hanya memberi respon seperlunya. Alasan kenapa aku masih berada di sini sekarang adalah aku menunggu Jiyeon keluar kelas sekali lagi saja, dan akan menggunakan kesempatan kali ini dengan baik. Tapi ternyata tidak, dia tetap berada di dalam kelas, berkutat dengan buku pelajarannya. Akupun mendesah berat, ya sudah, lagi pula tadi aku bilang akan mengembalikan bukunya besok. Aku pun bilang akan kembali ke kelas dan Jieun melambai, dengan aegyo nya dia bilang agar aku berhati-hati. Hati-hati? bahkan jarak kelasku dari sini tidak sampai 100 meter.

Coba saja jika Jiyeon yang bilang seperti itu. Coba saja kalau Jiyeon yang melambai dan tersenyum dnegan tulus seperti itu. Mungkin akan lebih terasa sempurna.

Baiklah, aku menyesal. Aku menyesal menyembunyikan kebenaran kecil ini dari awal. Kebenaran bahwa aku menginginkan Parj Jiyeon lebih dari yang aku pikirkan.

Satu kesempatan terbuang dengan percuma, tapi aku sudah mendapatkan kesempatan lain, bukan?

Iklan

5 thoughts on “A Little Truth [Myungsoo’s side]

  1. Ping balik: Smile, with the sinking sun | Fe's little note

Gimmie ur comment ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s