A little truth [Jiyeon’s side]

rrPicsArt_1361636583262

Tittle: A Little Truth

Type: Short story

Cast: Kim Myungsoo, Park Jiyeon, Lee Jieun

Summary: “Jika saja aku lebih berani sedikit, untuk mengakui kebenaran kecil ini, mungkin tidak akan sesakit ini rasanya..”

Aku berjalan dengan sedikit tergesa seperti biasanya. Sedikit menunduk ketika melewati sekumpulan murid laki-laki yang sedang duduk di koridor dan tertawa-tawa dengan lepasnya. Entah apa yang mereka bicarakan. Tidak terlalu penting untuk diketahui, sepertinya. Kebanyakan murid laki-laki di sekolah ini sulit dimengerti. Mereka bisa terbahak dan diam dengan seketika, lalu tertawa lagi dengan kerasnya dan aku tidak suka. Tapi terkecuali untuk satu orang itu. Orang yang sekarang sedang berdiri di depan kelasku. Kim Myungsoo, sunbae-nim. Aku bisa mengenalinya meskipun dari jarak yang lumayan jauh seperti ini. Karena dia berbeda.
Tanpa sadar aku mengehentikan langkah dan menelan ludahku yang terasa sangat berat.
Lalu imajinasi ku mulai bekerja dengan sendirinya.
Dia mencariku.
Dia mengajakku mengobrol tentang ini dan itu.
Lalu dia bilang bagaimana jika kita pulang bersama setelah sekolah nanti.
Lalu aku pun mengangguk dan-

Dan aku sadar ketika dia sedikit berbalik ke kanan terlihat semacam sebuah kertas di tangannya yang dia sembunyikan di balik tubuhnya. Oh, ternyata dia akan menemui anggota club nya. Bukankah aku sangat bodoh? Hanya melihatnya berada di depan kelasku saja sudah senang begini. Memangnya hanya aku penghuni kelas itu? Memangnya dia tidak ada kerjaan menghampiriku ke kelas? Bukankah sudah seharusnya aku tersadar? Sudah berulang kali kenyataan menamparku dengan keras seperti ini. Tapi aku tetap saja bergeming, seperti orang bodoh.

Dia membalikkan badannya ke segala arah dengan perlahan, seperti sedang mencari. Jantungku berdegup dengan irama yang tidak normal lagi. Harapan-harapan tak berarti seperti ini yang selalu menghiasi pikiranku tiap kali menafsirkan gerak-geriknya; harapan bahwa itu berkaitan denganku.

Lalu dia berhenti bergerak ketika melihat ke arah ku dan tepat ketika aku memutuskan untuk meneruskan kembali langkahku. Untuk beberapa saat aku bertatapan tepat dengan matanya dan ternyata efeknya sangat fatal untuk degupan jantungku. Tapi tidak bisa aku pungkiri kesejukan yang menyapa hatiku ketika masuk ke dalam sorot mata yang terkesan dingin itu. Entah kenapa aku merasa ingin selamanya melihat ke dalam mata itu tapi,,

Tapi ternyata itu berakhir dengan sangat cepat, karena baru saja aku akan menarik ujung bibirku untuk memberikan sebuah senyum, seseorang sudah berdiri tepat di depannya sehingga menghalangiku untuk melihat sosoknya.

Baiklah, hanya dengan sekali lihat pun aku tahu siapa orang itu. Lee Jieun. Teman sekelasku. Dia sangat menyukai Myungsoo sunbae-nim. Aku tahu dan aku sangat merasa bersalah karena menyukainya juga. Ini yang membuatku enggan untuk berharap banyak. Ini yang membuatku tidak tahan dengan apa yang aku rasakan untuknya. Aku merasa jahat dan terkutuk!

Akhirnya, kuberanikan diri untuk terus berjalan lurus menuju kelas. Aku tidak boleh berlari, lagi. Aku tidak boleh menghindar, lagi. Apapun yang ku dengar nanti, aku tidak boleh sampai bergabung dengan mereka atau aku akan sangat memperlihatkan perasaanku dan menghancurkan semuanya. Menghancurkan batas yang mati-matian kubangun antara aku dan Myungsoo sunbae-nim.

Aku berusaha terlihat setenang mungkin ketika melewati mereka berdua meskipun jantungku seolah mogok dan air mataku mendobrak untuk keluar. Ketika,,, aku mendengar suara itu dan hatiku pun mencelos.

“Jiyeon-sshi, maaf aku lupa membawa buku mu yang aku temukan di laboratorium kemarin lusa.”

Dan oksigen pun seolah mengisi paru-paru ku kembali. Ternyata dia mengingatnya, meskipun nyatanya tadi dia bilang lupa. Aku berbalik, dan –mencoba– untuk tersenyum. Meskipun aku yakin hasilnya akan sangat terlihat aneh.

“Tidak apa-apa, sunbae. Tapi sepertinya aku akan butuh buku itu di hari sabtu nanti..”

“aku akan membawanya besok. Tenang saja.” suara dingin itu. Aku menelan ludahku sekali lagi. Dia selalu seperti ini ketika berbicara denganku. Memotong, seolah dia bisa membaca pikiranku atau apa. Tapi kali ini aku yakin dia salah mengartikan kata-kataku. Jiyeon bodoh! kenapa kau berkata seperti tadi dengan nada setinggi itu?? Apa yang akan dia pikirkan nanti? Kali ini tamat sudah riwayat semua harapan-harapan kosongku. Benar-benar tidak ada harapan. Bahkan sekedar harapan kosong.Setelah yakin aku sudah mengangguk dan tersenyum-sedikit, aku pun masuk ke dalam kelas dengan napas yang kembali tertahan.

Kenapa aku selalu bersikap bodoh setiap berada di dekatnya..

Baiklah, aku sedikit menyesal-mungkin banyak. Apalagi setelah mendengar celotehan nyaring Jieun di belakang sana. Aku memang bukan gadis ceria seperti Jieun. Aku memang terlalu kaku dan membosankan. Aku–cukup–tahu itu.

Jika saja aku lebih berani sedikit, untuk mengakui kebenaran kecil ini, mungkin tidak akan sesakit ini rasanya. Kebenaran bahwa aku tidak akan pernah bisa menggapainya.

Dan rasa itu pun semakin muncul ke permukaan (rasa bahwa melupakannya adalah hal yang terbaik), meskipun sedikit demi sedikit ditenggelamkan kembali oleh rasa lain yang begitu kuat (rasa bahwa aku ingin terus melihatnya dan ingin dia melihatku).
Sepertinya aku cukup gila sekarang,,

Iklan

5 thoughts on “A little truth [Jiyeon’s side]

  1. Dinozaurus

    Ini keren thor … Aku sedih, Perasaan jiyeon sama kayak perasaan aku :’) bukan hanya perasaan, wajah sami juga sama …
    *KRIK :’)

  2. Ping balik: Smile, with the sinking sun | Fe's little note

Gimmie ur comment ;)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s